Skip to content

Al-Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus (Keramat Luar Batang, Jakarta)

June 4, 2010

Bismillahirrohamnirrohim.

I.

Ketinggian ilmu agamanya tak diragukan lagi, semangat nasionalismenya tak diragukan. Masyarakat menganggapnya sebagai pelindung rakyat jelata. Orang mengenalnya sebagai sosok pribadi yang alim, cerdas, bijaksana, tenang, lemah lembut, ramah dan santun. Masyarakat menyebut beliau Habib Keramat Luar Batang. Beliau adalah al-Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus, seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dimasa penjajahan Belanda. Beliau oleh masyarakat dipercaya sebagai seorang waliyullah.

Nasab beliau adalah :

Al-Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bi Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi al-Ghuyyur bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah SAW.

Al Habib Husein lahir di Miqab dekat Hazam, sebuah desa di Hadramaut. Ia dilahirkan sebagai anak yatim yang dibesarkan oleh seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai pemintal benang. Mereka hidup sangat sederhana. Pada usia belia, sang ibu menitipkan al Habib Husein kecil kepada seorang ulama sufi pada masa itu. Sang guru memandang bahwa al Habib Husein memiliki kelebihan dan perilaku lain dari teman-teman sebayanya.

Pernah suatu ketika ibunya sedang menderita sakit dan memerintahkan al Habib Husein kecil untuk menggantikan pekerjaan memintal benang di gudang tempat ibunya bekerja. Oleh sang ibu, ia disediakan makan malam dan sebuah lampu minyak. Setelah itu, sang ibu kembali ke rumah. Menjelang pagi, sang ibu membuka pintu gudang, saat dibukan alangkah terkejutnya sang ibu, dilihatnya hasil pintalan benang yang begitu berlimpah, hingga sang ibu heran dan tercengang, beliau berpikir bagaimana mungkin hasil pintalan benang yang seharusnya dikerjakan beberapa hari, hanya dikerjakan dalam waktu semalam. Padahal al-Habib Husein kecil sedang tidur nyenyak disudut gudang dan makanan yang disediakan masih utuh.

Oleh sang ibu, kejadian ini diceritakan kepada guru thariqah al Habib Husein. Mendengar cerita itu, sang guru berucap : “Sungguh Allah SWT telah menganugerahkan kelebihan kepada putramu, dan Allah SWT telah berkehendak kepadanya untuk diberi derajat serta kedudukan yang besar disisi-Nya. Hendaklah engkau berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya. Rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada putramu ini.”

Setelah menginjak dewasa, al-Habib Husein berkeinginan untuk melakukan dakwah guna menyiarkan agama Islam. Kemudian al-Habib Husein menemui ibunya dan mengutarakan niatnya itu. Walaupun berat hati sang ibu merelakan kepergian puteranya.

Setelah mendapat izin dari sang ibu, kemudian al-Habib Husein bergegas menghampiri rombongan para pedagang yang berada di pasar, akhirnya al Habib Husein mendapatkan tumpangan dari rombongan khafilah tersebut dan berlayar ke India. Sesampai di daratan India, dia berpisah dengan rombongan tersebut dan akhirnya beliau tiba di Kota Gujarat yang mayoritas penduduknya beragama Budha dan saat itu mengalami kemarau yang panjang.

Tersiar kabar bahwa al Habib Husein  al-Aydrus dari Negeri Hadramaut tiba di kota Gujarat. Mereka menyambut al Habib Husein dengan sambutan yang luar biasa. Al Habib Husein diharapkan oleh penduduk setempat untuk dapat menyelamatkan negeri dari bencana kekeringan yang melanda. Al Habib Husein kemudian mengajak penduduk untuk membangun sebuah sumur, setelah sumur itu jadi al Habib Husein memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan. Tidak lama kemudia maka hujan turun dengan begitu derasnya.  Negeri yang kering tersebut menjadi subur. Akhirnya penduduk yang selama ini merupakan penganut agama Budha, berbodong-bondong memeluk agama Islam. Dan kemudian al Habib Husein memulai berdakawah dan pengajaran tentang Islam kepada para mualaf dan penduduk setempat.

Al Habib Husein datang ke Batavia sekitar tahun 1746 M, untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Waktu itu diperkirakan ia masih berusia 25 tahun. Ia datang melalui Pelabuhan Sunda Kelapa yang kala itu dikuasai VOC. Dikisahkan bahwa ia tiba pertama di Kampung Baru, yang sekarang terkenal dengan sebutan Kampung Keramat Luar Batang, dasar Pasar Ikan, Jakarta Utara. Daerah ini merupakan benteng Pertahanan Belanda di Jakarta masa itu dan merupakan kawasan terlarang bagi Penduduk.

Kedatangan al Habib Husein bersama rombongan inipun diketahui oleh pihak kompeni, dan akhirnya al Habib Husein beserta pengikutnya diusir serta digiring keluar dari Teluk Jakarta. Namun tak berselang lama dari kejadian itu, al Habib Husein dengan menaiki sebuah perahu kecil, terapung-apung dan terdampar kembali ke tempat semula. Kemudian seorang Tionghoa muslim dari Betawi, Haji Abdul Kadir menyelamatkan al Habib Husein dan menyembunyikannya, hingga Haji Abdul Kadir pun berguru kepadanya.

II.

Suatu malam, seorang awak kapal dagang dari China dapat meminta perlindungan kepadanya. Dia menemui al Habib Husein dengan nafas terengah-engah dan wajah yang tampak tegang dan pucat, pakaiannya basah kuyup oleh keringat. Al Habib Husein bertanya dengan lemah lembut: “Mengapa engkau ketakutan seperti ini?” Kemudian sambil gemetaran, awak kapal menjawab : “Habib, saya minta perlidungan dan pertolongan kepadamu. Saat ini saya dikejar-kejar oleh tentara VOC. Mereka menjatuhi hukuman gantung kepada saya dan besok saya akan dieksekusi.”

Mendengar hal itu al Habib Husein mempersilahkan untuk menginap di rumahnya, orang tersebut diberi pakaian dan dijamu dengan baik oleh al Habib Husein. Keesokan harinya, puluhan VOC mengepung kediaman al Habib Husein dan memerintahkan al Habib Husein untuk menyerahkan awak kapal tersebut. Dengan lagak kurang ajar, mereka menggeledah kediaman al Habib Husein. Melihat hat itu, dengan tegas al Habib Husein berkata : “Tuan-tuan tidak boleh manangkap dan membawanya! Akulah yang akan bertanggung jawab atas oraing ini dan akulah sebagai jaminannya.”

Mendengar ucapan al Habib Husein tersebut, pasukan VOC gemetara, mereka diam, tertunduk dan membisu, seraya serempak mereka berpamitan dan kembali ke markas. Melihat kejadian ini, awak kapal tersebut lega, dan ia bersimpuh dan menangis haru di hadapan al Habib Husein. Awak kapal itu, mengucapkan terima kasih berkali-kali dan akhirnya di hadapan al Habib Husein, iapun memeluk Islam.

Sejak peristiwa itu, nama al Habib Husein menjadi terkenal. Sosoknya pun menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat pesisir utara Betawi. Maka mulai berdatanglah satu persatu orang yang ingin belajar agama kepadanya. Lingkungan sekitar Luar Batang mulai ramai, seiring maraknya kegiatan perdagangan di Pelabuhan Sudan Kelapa. Pesatnya minat masyarakat yang datang untuk belajar Islam kepada al Habib Husein mengundang kekhawatiran para penguasa VOC, karena dipandang akan menggangu ketertiban dan keamanan.

Dengan berbagai alas an yang dibuat-buat, akhirnya al Habib Husein beserta pengikutnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara kawasan Glodok, yang saat ini menjadi pertokoan Harco. Dibalik terali besi tidak menyurutkan dan menghentikan peranan al Habib Husein dalam menyebarkan Islam, walau di dalam ia tetap berdakwah dan mengajar. Melihat seperti itu, kepala sipir penjara menempatkan al Habib Husein di sel terpisah dari tahanan lain, agar al Habib Husein tidak melanjutkan kegiatan dakwahnya kepada para tahanan lainnya. Ia ditempatkan seorang diri dan dijaga sangat ketat.

Pada suatu hari, sipir penjara dibuat terheran-heran, karena ditengah malam mereka melihat al Habib Husein menjadi imam sholat diruangan tahanan lainnya dan memimpin dzikir hingga masuknya waktu subuh. Anehnya, diwaktu yang bersamaan, sipir penjara al Habib Husein sedang tidur nyeyak di selnya yang sempit, padahal selnya dalam keadaan terkuci rapat.

Kejadian ini berkembang menjadi buah bibir dikalangan penguasa VOC. Dengan segala pertimbangan, akhirnya pemerintah VOC di Batavia meminta maaf kepada al Habib Husein atas penahanan tersebut. Lalu al Habib Husein beserta pengikutnya dibebaskan dari tahanan dan al Habib Husein diberi hadiah sebidang tanah di daerah Kampung Baru. Kemudian al Habib Husein mendirikan sebuah rumah di atas tanah tersebut, serta dibangun pula sebuah surau yang dibagun pada tahun 1730 M, sebagai tempat ibadah, berdakwah dan berkhalwat. Hingga saat ini surau tersebut berkembang menjadi Masjid Keramat Luar Batang. Surau tersebut pertama kalinya diperluas oleh masyarakat pada tahun 1827 M, dan kembali diperluas pada tahun 1995 M.

Al Habib Husein termasuk pejuang nasional yang gigih membela tanah air nusantara, dimasa hidupanya ia berjihad melawan penjajah, oleh sebab itu pemerintah colonial Beladan sering menjebloskannya ke penjara. Namun disisi lain, pemerintah VOC tidak berani mengusiknya, hal ini dikarenakan keberanian, ketegasan dan kewibawaannya. Masyarakat mengenal sosok al Habib Husein sebagai sosok pribadi yang pemberani, sangat alim, bijaksana, tenang, lemah lembut, akhlak dan perangainya meneladani Rasulullah SAW.

Suatu hari, al Habib Husein ditemani oleh Haji Abdul Kadir, sedang duduk berteduh di sebuah taman di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Disaat mereka beristirahat, melintaslah seorang anak Belanda, oleh al Habib Husein dipegang pundak anak tersebut seraya berkata kepada Haji Abdul Kadir, “Lihatlah, bahwa kelak anak ini akan menjadi Gubernur Jenderal di Batavia.”

Anak kecil Belanda itu ketakutan dan berlari ke pembantunya, al Habib Husein meminta Haji Abdul Kadir untuk menghampiri pembantu anak Belanda untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini menjadi seorag pembesar negeri ini. Dan benar, bahwa anak tersebut setelah lulus dari pendidikan tinggi di Amsterdam, kembali ke nusantara dan menjadi Gubernur Jenderal Batavia.

Pernah suatu saat al Habib Husein mendapatkan hadiah sekarung kepingan uang dari Gubernur Jenderal Batavia. Uang tersebut diterimanya dan langsung dibuang ke laut Sunda Kelapa, tentu saja Gubernur Jenderal sangat terkejut. Sang Habib berkata : “Tenang tuan, uang tersebut tidak hilang. Uang tersebut saya kirimkan kepada ibu saya yang berada di Yaman.” Karena penasaran, sang Gubernur memerintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang dibuang di laut. Alhasil tak satupun keping uang ditemukan di dasar laut. Maka sang Gubernur mengutus ajudan untuk berangkat ke negeri Yaman guna bertemu dan menanyakan kepada ibu al Habib Husein. Sekembali dari Yaman, ajudan tersebut melaporkan bahwa ibu al Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang dibuat ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

Al Habib Husein bin Abubakar al-Aydurs dalam hidupnya belum sempat menikah. Dalam usia sekitar 32 tahun, pada hari Kamis, 17 Ramadhan 1169 H atau bertepatan dengan 24 Juni 1756 M beliau wafat. Seseui dengan peraturan yang ditetapkan Gubernur Belanda di Batavia masa itu, bahwa setiap orang asing yang meninggal harus dikuburkan di pemakaman khusus yang terletak di daerah Tanah Abang, Jakarta. Sebagai umumnya, jenazah al Habib Husein diusung dengan keranda, namun sesampai dipemakaman, jenazahnya tidak berada dalam keranda tersebut. Melihat hal tersebut, para pengantar jenazah kembali ke kediaman al Habib Husein. Betapa kagetnya mereka, ternyata jasad al Habib Husein tetap berada di tempat tinggalnya.

Lalu jenzahanya kembali dimasukkan ke dalam keranda, namun kejadian aneh terulang lagi. Jenzahnya hilang, dan kembali ke kediamannya. Maka oleh beberapa ulama waktu itu yang memahami makna tersebut, akhirnya mereka sepakat untuk memakamkan jenazah al Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus di tempat yang merupakan kediamannya semasa hidup. Kemudian masyarakat menyebutnya ‘Kampung Baru Luar Batang’ atau ‘Kampun Keramat Luar Batang’ , yang terletak di kota Jakarta Utara.

Wallahu a’lam.

From → Mutiara Kisah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: