Skip to content

Keutamaan Bulan Sya’ban

July 12, 2010

Bismillahirrohmanirrohim

Di antara bulan-bulan Islam dalam setahun, bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan merupakan rangkaian bulan berurutan yang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” Tiga rangkaian bulan itu selalu dijadikan acuan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.

Ibn Manzhur dalam kitab Lisan al-‘Arab mengatakan, bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena ia sya’ab, artinya “menojol”, di antara dua bulan, yakni Rajab dan Ramadhan. Dalam riwayat lain, Sya’ban diambil dari kata as-sya’h, artinya jalan di gunung, yaitu jalan yang baik.

Dalam kitab Raudhah al-‘Ulama diriwayatkan, Rasulullah SAW berkata, “Tahukah kamu apa sebab bulan itu dinamakan Sya’ban?”

Mereka , para sahabat, menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?”

Lalu beliau bersabda, “Karena, pada bulan itu (terdapat) tasya’ub (bercabang-cabang) kebaikan yang banyak.”

Abu Umamah al Bahi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “jika bulan Sya’ban datang, bersihkanlah jiwa dan baguskanlah niat kalian.”

A’isyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, jika berpuasa seakan-akan tidak pernah berbuka, dan jika berbuka seakan-akan tidak pernah berpuasa. Hanya saja beliau sering berpuasa pada bulan Sya’ban.

An Nasa’i meriwayatkan bahwa Usamah berkata, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa seperti puasa engkau pada bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilupakan orang. Sya’ban yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal manusia ke hadirat Allah SWT, aku ingin saat amalku dihadapkan kepada Allah, saat itu diriku sedang berpuasa.”

Dalam hadist shahih yang berasal dari A’isyah diriwayatkan, Rasulullah SAW tidak menyempurnakan puasanya kecuali pada bulan Ramadhan, dan beliau sering berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban. Dalam suatu hadist bahkan dikatakan, Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh selama bulan Sya’ban. Sementara dalam salah satu hadist Muslim diriwayatkan, Rasulullah SAW tidak berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban, tetapi hanya beberapa hari saja.

Dikisahkan, di alam langit, para malaikat mempunyai dua hari raya seperti umat Muslim di bumi. Dua hari raya para malaikat adalah malam Nisfu Sya’ban dan malam Lailatul Qodar. Mengapa malam nisfu sya’ban dinamakan hari rayanya para malaikat? As Subki berpendapat, karena pada malam nifsu sya’ban dihapuskan dosa-dosa selama setahun. Sedangkan pada malam Jum’at dihapuskan dosa selama seminggu, dan pada malam lailatul qodar diampuni dosa seumur hidup. Karena itulah, malam-malam tersebut dinamai malam-malam penghapusan dosa.

Kata Nishfu Sya’ban adalah tarkib idhafi (susunan kata majemuk) yang terdiri dari kata nishfu, yang artinya setangah atau separuh, dan sya’ban, nama bulan kedelapan dalam bulan Islam. Maka malam Nishfu Sya’ban adalah malam pertengahan bulan Sya’ban, yaitu malam ke-15.

Imam Ahmad dan Ad Daruquthni meriwayatkan hadist Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun (maksudhnya rahmat-Nya) ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban. Maka diberi-Nya ampunan yang lebih banyak daripada bulu kambing Bani Kalb.”

Abu Hurairah RA, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah SAW, ‘Jibril pernah datang kepadaku pada malam Nishfu dari bulan Sya’ban seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, inilah malam yang dibukakan padanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat. Maka bangunlah engkau, sholatlah dan angkatlah kepalamu serta kedua tanganmu ke langit.’

Lalu aku bertanya, “Wahai Jibril, malam apakah ini?”

Ia menjawab, ‘Inilah malam yang dibukakan padanya tiga ratus pintu rahmat. Maka Allah mengaruniakan ampunan bagi segenap mereka yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali orang yang menjadi tukang sihir, tukang tenung, orang yang bermarah-marahan, orang yang mengekalkan minum arak, orang yang mengekalkan zina, orang yang makan riba, orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, tukang mengadu domba, dan orang yang memutuskan tali kekeluargaan. Maka sesungguhnya mereka itu tidak diampuni hingga mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut.’

Kemudian Nabi pun keluar, lalu sholat dan menangis dalam sujudnya dan mengatakan, ‘Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu dan kemurkaan-Mu. Dan tidaklah aku dapat menghinggakan pujian atas-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Maka bagi-Mu-lah pujian hingga Engkau ridha.”

Malam Nishfu Sya’ban dinamakan pula laylah al-qismah wa at-taqdir (Malam pembagian dan penentuan), sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Atha ibn Yasar; bahwa jika datang malam Nisfhu Sya’ban, malaikat maut menghapus daftar orang yang seharusnya meinggal pada bulan itu untuk dimajukan ke bulan Sya’ban tahun berikutnya. Seorang hamba yang menanam tanaman, menikah dan membangun sebuah bangunan, nama-nama mereka dihapus dari daftar orang-orang yang seharusnya meninggal pada bulan Sya’ban karena amal salih yang mereka perbuat. Malaikat maut menangguhkan kematian mereka sampai datang perintah Allah.

Berkumpul-kumpul di Masjid atau Musholla, setelah sholat Maghrib, untuk berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an, seperti surah Yasin pada malam Nishfu Sya’ban merupakan suatu kebaikan.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika duduk di suatu kaum yang menyebut-nyebut Allah, malalikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, dan turunlah atas mereka ketenangan, dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang berada pada sisi-Nya.” (HR Muslim)

Bulan Sya’ban secara keseluruhan merupakan kesempatan besar dan mulia untuk segera berbuat baik dan berlomba-lomba menyebarkan kebaikan dan amal salih.

Diantara yang sangat baik untuk diamalkan pada bulan ini adalah banyak berdoa dan membaca istighfar dan memperbanyak istighfar pada malam Nishfu Sya’ban, akan dilancarkan dan dimudahkannya rizkinya. Juga dianjurkan membaca surah Yasin.

dalam riwayat Imam Ali bin Abi Thalin, ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah SAW pada malam Nishfu Sya’ban berdiri melakukan shalat empat belas rakaat, kemudian beliau duduk setelah selesai, lalu membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah), al-Ikhlas, al Mu’awwidzatain (al Falaq dan an Nas) masing-masing empat belas kali, dan membaca ayat Kursi satu kali, kemudian dia membaca. “Laqad’ jaa-akum rasulum-min anfusikum azizun ‘alayhi ma anittum harisun ‘alaikum bil-mu’minina raufur rahim.” (QS at-Taubah, 128).

Ketika beliau selesai membaca itu, aku bertanya tentang apa yang beliau lakukan. Beliau menjawab, ‘Barangsiapa melakukan seperti yang engkau lihat itu, ia mendapatkan pahala seperti dua puluh kali haji mabrur dan puasa dua puluh hari yang diterima. Jika pagi harinya berpuasa, ia mendapatkan ganjaran seperti puasa enam puluh tahun yang akan datang.”

Pada malam Nishfu Sya’ban dianjurkan di awal waktu sesudah sholat mahgrib, hendaknya kita membaca surah Yasin tiga kali. Pembacaan pertama diniatkan mohon dipanjangkan umur dalam berbuat ibadah, pembacaan kedua, dengan niat minta dipelihara dari bencana, disembuhkan dari penyakit, dan diluaskan rizqi yang halal. Dan pembacaan ketiga, dengan niat minta kaya hati dari segala makhluk (tidak butuh kepada makhluk) dan mohon husnul khotimah.

Wallahu a’lam bi sowab. Shollallohu ala muhammad.

From → Ibadah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: