Skip to content

Diantara Maghrib dan Isya’

August 21, 2010

Dari Kitab “Al Ghunyah li thalibi Thariq al haqq ‘Azza wa Jalla” karya Syeikh Abdul Qodir Jaelani.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa sholat enam rakaat setelah Maghrib tanpa menyelinginya dengan pembicaraan apa pun, maka pahala keenam rakaat tersebut sebanding dengan ibadah dua belas tahun. “Dalam riwayat Zayd bin Hubab menggunakan redaksi,” tanpa menyelinginya dengan pembicaraan yang buruk di antara keenam rakaat tersebut. “

Sholat tersebut dikenal dengan sholat sunnah awwabin.

Dikatakan bahwa pada kedua rakaat pertama disunnahkan untuk membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas dengan bacaan yang percepat agar kedua rakaat tersebut dapat diangkat bersama denagn sholat Maghrib. Kemudian empat rakaat sisanya dikerjakan dengan bacaan yang panjang sesuai dengan yang diinginkannya, itu pun jika mampu melakukannya.

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan sholat sunnah empat rakaat setelah sholat Maghrib, sebelum ia sempat berbincang-bincang dengan orang lain, maka sholatnya akan diangkat ke tempat yang sangat tinggi (illiyin). Orang yang melakukannya seperti orang yang mendapatkan lailatul qodar di Mesjid al-Aqsha, dan ini lebih baik dari sholat setengah malam. “

Abdurrahman bin Aswad berkata, “Aku tidak melewatkan satu saat pun untuk mengunjungi Abdullah Ibnu Mas’ud ra, melainkan aku merasa tengah sholat sunnah antara Maghrib dan Isya.” Ia berkata, ‘Karena waktu ini (antara maghrib dan isya) adalah waktu yang melalaikan . “

Ada yang berpendapat bahwa pada waktu inilah (antara maghrib dan isya ‘), pengambilan ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (QS, as-Sajdah (32), 16)

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang setelah sholat Maghrib membaca surat as-Sajdah dan al-Mulk, maka pada hari kiamat nanti ia akan datang dengan wajah seperti bulan purnama dikarenakan ia telah memenuhi hak-hak dari malam itu.”

Keempat rakaat yang disebutkan dalam hadist di atas, bisa jadi terpisah dari dua rakaat sunnah setelah maghrib, dan bisa jadi pula masuk dalam jaringan shalat sunnah tersebut.

Tentang sholat sunnah dua rakaat sebelum magrib, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang sholat sunnah dua rakaat sebelum maghrib, dan ia menjawab, “Saya pribadi tidak mengerjakannya, namun jika ada yang mengerjakannya, maka itu tida ada larangan.

Ibnu Umar ra. pernah ditanya tentang sholat sunnah sebelum Maghrib, dia ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di zaman Nabi SAW mengerjakan sholat sunnah dua rakaat sebelum Maghrib.” Namun Ibnu Umar ra tidak melarangnya.

Anas bin Malik ra berkata, “Pada masa Nabi SAW kami mengerjakan sholat sunnah dua rakaat setelah matahari terbenam sebelum sholat Maghrib.” Saat ia ditanyai, “Apakah Nabi SAW juga mengerjakannya?” Ia menjawab, “Nabi SAW melihat kami mengerjakannya, namun ia tidak menyuruh maupun melarangnya. “

From → Ibadah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: