Skip to content

Tips Agar Doa Terkabul

I. Pendahuluan

Doa merupakan inti ibadah dan berpahala besar, tidak ada satu ibadah pun tanpa berdoa. Doa mempunyai kemampuan luar biasa yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal dan usaha manusia. Dengan doa, perkara susah berubah menjadi mudah, orang benci menjadi senang, orang miskin menjadi kecukupan, dan sebagainya. Setiap muslim selalu membutuhkan doa, begitu juga manusia dalam kehidupan selalu membutuhkan sandaran untuk setiap keluh kesahnya dan tidak mungkin setiap usaha bisa berhasil tanpa berdoa. Maka doa adalah senjata andalan bagi setiap muslim. Tetapi tidak semua doa bernilai ibadah dan pahala serta terkabulkan sebab terdapat kekeliruan, penghalang, dan kesalahan yang menjadi penyebab doa tersebut tertahan. Maka sangat perlu bagi setiap muslim mengetahui aturan, etika, syarat-syarat serta tata cara berdoa yang benar sesuai dengan syariat.

II. Etika Berdoa

1. Ikhlas karena Allah semata

2. Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu diikuti dengan bacaan shalawat atas Rasulullah dan diakhiri dengan hal itu pula

3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan doa, serta yakin akan dikabulkan

4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdoa dan tidak terburu-buru

5. Menghadirkan hati dalam doa

6. Memanjatkan doa baik dalam keadaan lapang maupun susah

7. Tidak memohon kecuali hanya kepada Allah semata

8. Tidak mendoakan keburukan kepada keluarga, harta, anak, dan diri sendiri

9. Merendahkan suara dalam berdoa yaitu antara samar dan keras

10. Mengakui dosa yang telah diperbuat, lalu memohon ampunan atasnya, serta mengakui nikmat yang telah diterima dan bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut

11. Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam berdoa

12. Tadharru’ (merendahkan diri), khusyu’, raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rahbah (rasa takut untuk tidak dikabulkan)

Sebagaimana firman Alah:
“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)

13. Mengembalikan (hak orang lain) yang dizhalimi disertai dengan taubat.

14. Memanjatkan doa tiga kali.

15. Menghadap kiblat.

16. Mengangkat kedua tangan dalam berdoa.

Cara mengangkat tangan dalam berdoa:
a. Ibnu Abbas berpendapat bahwa cara mengangkat tangan dalam berdoa adalah Kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, beristighfar dengan berisyarat satu jari. Adapun ibtihal (istighatsah) mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
b. Imam al-Qasim bin Muhammad berkata:”Saya melihat Ibnu Umar berdoa di al-Qashi dengan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya.”
c. Adapun doa istisqa (minta hujan) mengangkat tangan tingi-tinggi dan mengarahkan punggung telapak tangan ke langit. Dari Anas bahwa beliau melihat Rasulullah berdoa saat istisqa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengarahkan punggung telapak tangan ke langit, dan mengarahkan tangan sebelah dalam ke arah bumi hingga terlihat putih kedua ketiaknya.

Tentang mengusap muka:
Tidak ada satu hadits yang shahih tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan sesudah berdoa. Semua haditsnya sangat lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah, jadi tidak boleh dijadikan alasan tentang bolehnya mengusap muka. Imam Nawawi berkata ” Tidak ada Sunnahnya mengusap muka.” Dan Imam al-‘Izz bin ‘Abdus Salam berkata:”Tidaklah (yang melakukan) mengusap muka melainkan orang yang bodoh.”

17. Jika memungkinkan, Berwudhu terlebih dahulu sebelum berdoa.

18. Tidak berlebih-lebihan dalam doa.

19. Bertawassul kepada Allah dengan Nam-Nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakannya atau dengan doa seorang shalih yang masih hidup dan berada di hadapannya

20. Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal

21. Tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutuskan silaturrahim.

22. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

23. Harus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar

24. Hendaklah orang yang berdoa memulai dengan mendoakan diri sendiri, jika dia hendak mendoakan orang lain.

25. Berdoa dengan lafazh yang singkat.

“Dari Aisyah dia berkata bahwasanya Rasulullah menyukai doa yang singkat lafazhnya dan padat maknanya dan meninggalkan doa selain itu.” (Abu Daud)

III. WAKTU, KEADAAN dan TEMPAT DIKABULKANNYA BERDOA

1. Malam Lailatul Qadar

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbitnya fajar.” (Al-Qadr:3-4)

2. Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir

“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa tersisa sepertiga malam akhir malam, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, maka akan Aku kabulkan, Barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku mengampuninya.” (Bukhari)

3. Duburush shalawaatil maktuubah (Usai shalat-shalat wajib)

Syaikh bin Baaz berkata:”Kata Duburush shalah bisa berarti akhir shalat, tetapi sebelum salam, juga bisa berarti sesudah salam (langsung). Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan kepada dua pengertian itu. Namun kebanyakan hadits-hadits itu menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah akhir shalat, tetapi sebelum salam, karena hal itu ada kaitannya dengan doa, (dan seterusnya).”

4. Waktu antara adzan dan Iqamah

“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” (Abu daud)

5. Pada setiap kali setelah dikumandangkan adzan

6. Suatu waktu pada setiap malam hari

7. Pada saat turun hujan

“Dua doa yang tidak pernah ditolak: doa pada waktu adzan dan doa pada waktu hujan.” (Hakim)

8. Pada saat jihad fi sabililah

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak: doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” (Abu Daud)

9. Suatu saat pada hari Jumat

“Sesungguhnya pada hari jumat ada satu sat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan kepadanya, beliau bersyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut.” (Bukhari)

Pendapat yang paling kuat berkenaan dengan masalah ini adalah bahwa suatu saat yang dimaksudkan adalah ba’da ashar di hari Jumat. Tetapi dimungkinkan juga bahwa yang dimaksudkan adalah waktu antara khutbah dan shalat.

10. Ketika bersujud dalam shalat

“Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab pada saat itu sangat tepat untuk dikabulkan.” (Muslim)

11. Jika tidur dalam keadaan suci, lalu bangun pada alam hari, kemudian membaca doa yang ma’tsur (doa yang datang dari Rasulullah)

“Tidaklah seseorang hamba tidur dalam keadan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” (Ibnu Majah)

12. Pada saat memanjatkan doa

“Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimiin.” (Al-Anbiya:87)

13. Doa orang-orang setelah meninggalnya seseorang (ketika memejamkan mata si mayat yang baru saja meninggal dunia)

“Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda: “Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya’. Beliau bersabda : ‘Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan.” (Muslim)

14. Ketika berdoa pada saat ditimpa musibah

Yaitu dengan membaca:
“Inna lillahi wa inna ilaihi Raaji’un.Allahumma’ jurnii fii mushibatii, wa akhliflii khairam minhaa”
(Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah berilah ganjaran dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya)

15. Doa seorang muslim untuk saudaranya yang muslim tanpa sepengetahuannya

“Tidaklah seorang muslim beroa untuk saudaranya yang tidak dihadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata:”Amin, dan bagimu seperti yang kamu doakan.” (Muslim)

16. Doa orang yang sedang berpuasa sampai berbuka

“Tiga doa yang tidak ditolak: doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” (Baihaqi)

17. Doa setelah berwudhu apabila berdoa dengan doa-doa Ma’tsur

18. Doa pada bulan Ramadhan

19. Di tempat berkumpulnya kaum muslimin di majelis-majelis ilmu

20. Doa keburukan dari orang yang dizhalimi atas orang yang menzhalimi

“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya sebab tiada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (Muslim)

21. Doa kebaikan atau keburukan dari orang tua atas anaknya dan doa seorang musafir

“Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan: doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya.” (Abu Dawud)

22. Doa orang-orang yang benar-benar dalam keadaan terjepit

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-(Nya).” (An-Naml:62)

23. Doa pemimpin yang adil

24. Doa anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya

25. Ketika minum air zam-zam dengan niat yang tulus

26. Doa pada hari arafah di arafah

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah.” (tirmidzi)

27. Doa di Shafa

28. Doa di Marwa

29. Doa ketika di Muzdalifah

30. Doa setelah melempar Jumrah Ash-Sughra

31. Doa setelah melempar Jumrah Al-Wustha

32. Doa di dalam Ka’bah dan orang yang mengerjakan shalat di dalam Hijr Ismail karena ia bagian dari Baitullah

33. Doa di Multazam di pintu Ka’bah

34. Doa orang yang sedang menunaikan Ibadah Haji

35. Doa orang yang sedang menunaikan Ibadah Umrah

36. Doa yang dipanjatkan setelah memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah serta shalawat atas Nabi pada saat tasyahud akhir

37. Ketika berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung yang mana jika kepada-Nya dipanjatkan doa dengan menyebut nama itu, niscaya Dia akan mengabulkannya dan jika Dia diminta dengan menyebut nama itu pula, niscaya Dia akan memberinya

38. Doa orang yang banyak berdoa pada saat lapang dan bahagia

“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.” (Tirmidzi)

39. Doa ketika turun hujan

Asy-Syafi’i berkata, “Aku telah mendapati banyak orang yang mencari terkabulnya doa pada saat turun hujan dan pada saat shalat didirikan.”

Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (Kitab al-Istisqa`, Bab Ma Yuqalu Idza Amtharat, 2/518, no. 1032) dari Aisyah Radhiallahu ‘anhu,

“Bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hujan, maka beliau berucap : ‘Ya Allah, jadikanlah ia hujan yang bermanfaat’.”

Ya Allah, jadikanlah ia hujan yang bermanfaat,” sebanyak dua atau tiga kali. (Shahih, telah disebutkan dan dibicarakan pada no. 557).

Kami meriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah, bahwa beliau mengucapkan :

Asy-Syafi’i ٌRahimahullah meriwayatkan dalam al-Umm dengan sanadnya sebuah hadits mursal dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

“Carilah terkabulnya doa pada saat bertemunya dua pasukan, saat shalat didirikan, dan saat turun hujan.”(Hasan. Telah disebutkan sebelumnya pada no. 117).

IV. Penghalang terkabulnya doa

1. Mengkonsumsi barang haram berupa makanan,minuman, pakaian dan hasil usaha yang haram

” … Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb…ya Rabb…” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” (Riwayat Muslim)

2. Minta cepat terkabulnya doa yang akhirnya meninggalkan doa

“Dikabulkan doa seseorang dari kalian selama ia tidak terburu-buru, ia berkata:’Aku sudah berdoa tapi belum dikabulkan doaku” (Riwayat Bukhari-muslim)

3. Melakukan maksiat dan apa yang diharamkan Allah

Bagaimana mungkin kita mengharapkan terkabulnya doa
sedangkan kita sudah tertutup jalannya dengan dosa dan maksiat (Penyair)

4. Meninggalkan kewajiban yang telah diwajibkan Allah seperti memutuskan silaturahmi

“Dari Hudzaifah dari Nabi:’Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau (kalau kalian tidak kalian lakukan) maka pasti Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (Tirmidzi)

5. Tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa

“Rasulullah bersabda” Apabila seseorang dari kamu berdoa dan memohon kepada Allah, janganlah ia mengucapkan:’Ya Allah ampunilah dosaku jika Engkau kehendaki, sayangilah aku jika Engkau kehendaki dan berikan rezeki jika engkau kehendaki.’ Akan tetapi, ia harus bersungguh-sungguh dalam berdoa sesungguhnya Allah berbuat menurut apa yang Ia kehendaki dan tidak ada yang memaksanya.” (Bukhari)

6. Lalai dan dikuasai hawa nafsu

“Berdoalah kalian kepada Allah dengan yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati lalai dan lengah.” (Tirmidzi).

Wallahu a’lam

Dari Bebagai Sumber.

Fakta : Majapahit Adalah Sebuah Kerajaan Islam

Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.

Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.

Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.


2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.

Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.

Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.

Wallahu A’lam

Kisah Rasulullah: Air Tuba dibalas Air Susu

I. Kisah Pertama

Nabi SAW bukanlah seorang kekasih Allah SWT yang dimanjakan Tuhan. Ia harus berjuang dan bekerja keras dalam mengemban amanah Allah selaku utusan-Nya. Ia sering dihina, dicaci, dan diancam oleh musuh-musuhnya dalam memperjuangkan tegaknya kebenaran ajaran Islam.

Dalam suatu waktu, tiap kali Rasulullah membuka pintu pagi-pagi untuk menjalankan shalat Subuh di masjid, sudah tertumbuk di ambang pintu rumah beliau kotoran. Nabi mengambil air dan membersihkan tempat itu dahulu, baru bisa melanjutkan niatnya.

Besoknya, pagi-pagi, bukan setumpuk kotoran manusia yang beliau dapatkan di muka pintu, malah dua tumpuk besar. Dan esok harinya, bertambah lagi hingga tingga gundukan besar. Demikianlah selanjutnya.

Namun Nabi tidak mengeluh. Dengan sabar beliu bersihkan sendiri tempat bernajis itu tiap hari, sampai akhirnya orang jahat yang melakukan perbuatan keji itu merasa bosan sendiri dan menghentikan tindakannya menumpuk kotoran di depan pintu rumah Nabi SAW.

Lalu kejadian itu, Nabi belum terbebas dari kejahatan musuh-musuhnya. Tiap kali beliau melalui sebuah rumah berloteng dalam perjalanan ke masjid, selalu dari jendela atas ada seseorang yang membuang air najis ke kepala beliau. Begitu yang beliau alami setiap hari. Namun Nabi tidak marah. Bahkan tatkala beberapa hari sesudah itu tidak ada air najis yang ditumpahkan ke kepalanya dari jendela loteng itu, Nabi bertanya kepada para sahabat.

“Ke mana orang yang tinggal di loteng atas itu?”

“Ada apa ya Rasulullah?” Tanya para sahbat, sebab mereka heran mengapa Nabi menanyakan kondisi orang kafir yang menghuni loteng atas itu.

“Tiap hari biasanya ia selalu memberikan sesuatu kepadaku. Hari ini tidak. Jadi aku khawatir tentang keadaannya. ”

“Kebimbanganmu tidak keliru, ya Rasulullah. Orang itu sedang sakit keras dan tidak keluar dari kamarnya. ”

Maka Nabi SAW menyuruh istrinya menyiapkan makanan untuk beliau bawa sendiri ke rumah orang jahat itu, sambil menengok keadaan sakitnya dan mendoakan agar cepat sembuh.

Orang itu sangat terkejut menerima kedatangan Rasulullah dengan membawa makanan yang lezat-lezat, padahal setiap hari ia memberikan air najis kepadanya. Orang itu pun amat malu dan menangis-nangis minta maaf.

Dengan lapang dada Rasulullah memberi maaf, sehingga orang itu kemudian menjadi sahabat setia.

II. Kisah Kedua

Pernah Abu Jahal mengirim utusan yang mengatakan bahwa ia tengah menderita demam hebat, ingin ditengok oleh Rasulullah SAW.

Sebagai kemenakan yang berbakti, Rasulullah segera bergegas hendak berangkat menuju rumah Abu Jahal.

Pemimpin orang musyrik itu sebetulnya tidak sakit. Ia telah menyiapkan lubang di depan pembaringannya yang di atasnya ditutup dengan permadani, sedangkan di dalam lubang itu telah dipasanginya beberapa tonggak yang runcing-runcing. Maksudnya untuk menjerumuskan Nabi SAW ke dalamnya.

Nabi kedengaran mulai melangkah masuk ke dalam kamar Abu Jahal. Tokoh busuk itu cepat-cepat menutupi badannya dengan selimut sambil pura-pura merintih. Namun dalam pendengaran Rasulullah, rintihan Abu Jahal itu tidak wajar dan berlebih-lebihan, tidak sesuai dengan wajahnya yang tetap cerah dan kemerahan.

Maka Nabi pun tahu, pasti Abu Jahal sedang menyiapkan jebakan untuknya. Karena itu, begitu beliau hampir menginjak permadani yang di bawahnya menganga sebuah lubang berisi tonggak-tonggak runcing, beliau segera permisi lagi dan keluar tanpa sepatah kata pun.

Abu Jahal terkejut. Ia bangun dan memanggil-manggil Nabi agar datang mendekat kepadanya. Karena Nabi tidak menggubris, Abu Jahal lalu bangkit dan melompak ke permadani hendak mengejar Nabi. Ia lupa akan perangkap yang dibuatnya sendiri. Akibatnya ia terjerumus sendiri ke dalam lubang itu dan menderita luka-luka yang cukup parah.

Akhirnya terpenuhi juga keinginan Abu Jahal ingin ditengok Rasulullah. Sebab setelah terperosok ke lubang itu ia benar-benar sakit. Nabi pun datang membawakan makanan-makanan lezat yang diterima Abu Jahal dengan muka kecut.

Begitulah teladan Rasulullah dalam menghadapi orang-orang yang jahat dan ingin mencelakakannya. Ia membalasnya dengan kebaikan. Air tuba dibalas air susu. Dan ini membuat musuh-musuhnya malu, insyaf, lalu meminta maaf, bahkan ada pula yang menerima risalah Rasulullah. Kecuali, tentu saja, Abu Jahal, karena gembong kaum musyrikin ini, meski mengetahui kebenaran risalah Rasulullah, hatinya telah tertutup oleh kesombongannya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Memetik Buah Cinta

Karena cinta, membiarkan diri beliau tertusuk sebatang duri pun hati tak rela.

Allah SWT telah memberikan berbagai kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya. Puncak kenikmatan yang dirasakan adalah ketika umat manusia di akhir zaman terpilih sebagai umat Muhammad SAW, pembawa peringatan dan kabar gembira. Beliau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membuka mata yang buta dan telinga yang tuli, serta menggugah hati yang lalai.

Ya, karunia terbesar yang telah Allah berikan kepada umat manusia, bahkan bagi alam semesta, adalah diutusnya nabi yang merupakan makhluk termulia dari seluruh makhluk ciptaan-Nya itu. Beliau memperhatikan nasib umatnya, bukan hanya di dunia, tapi juga sampai di akhirat kelak.

Karunia tersebut tak ternilai harganya. Syari’at yang dibawa Nabi telah mengangkat harkat kaum wanita dari sejarah kelam umat manusia yang selama berabad-abad telah menghinakan mereka. Lewat syari’at yang dibawanya pula, derajat seorang ibu di hadapan anaknya diletakkan dalam kedudukan yang amat mulia. Anak-anak yatim menempati kelas terhormat sebagai kesayangan beliau, sedangkan yang menyayangi mereka kelak akan mendampingi beliau di surga. Para budak pun berangsur-angsur terbebaskan dari cengkeraman kezhaliman yang telah lama mendera.

Tak terhitung banyaknya manusia yang terangkat derajatnya berkat kehadiran dan kedudukan beliau di sisi Rabb-nya. Ya, beliau memang seorang manusia tapi tidak seperti manusia kebanyakan. Beliau manusia istimewa.
Kehadiran manusia istimewa ini di alam dunia tentunya berawal dari saat kelahirannya. Kelahirannya itu populer dengan sebutan “Maulid Nabi”.

Media Pengingat Umat

Bila kepergian manusia biasa beroleh penghormatan sedemikian rupa, misalnya di beberapa event hari besar nasional lewat seremoni mengheningkan cipta untuk mengenang arwah para pahlawan yang telah merebut atau mempertahankan kemerdekaan negara, apakah kehadiran manusia agung pilihan Allah SWT yang senantiasa berupaya melindungi umatnya sejak di dunia hingga akhirat kelak tidak lebih utama untuk dihormati? Wajar saja bila para pecinta Nabi memperingati hari kelahiran beliau, sebagai salah satu bentuk ekspresi cinta dan penghormatan yang mereka berikan.

Di samping itu, agar tak lupa, manusia memang harus banyak diingatkan. Sebab, manusia adalah tempatnya khilaf dan alpa. Apatah lagi, seiring berjalannya waktu, semakin jauh pula jarak kehidupan Nabi dengan umatnya. Namun demikian, jarak waktu antara generasi sekarang dan generasi beliau bukanlah halangan dalam mengenal pribadi nan sempurna itu. Sebab, segala ucapan dan tindakannya dikenang dan diamati oleh orang-orang yang hidup pada masanya dan disampaikan dari generasi ke generasi. Di kemudian hari ucapan dan tindakan beliau dibukukan menjadi kumpulan hadits. Tak dapat disangkal, tak ada manusia yang pernah mendapat perhatian dan dikenang seperti itu sepanjang umur dunia.

Diadakannya sebuah peringatan adalah salah satu cara untuk mengatasi kelupaan. Dalam kaitan ini, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi media pengingat umat Islam agar senantiasa mencintai beliau, menaati syari’at yang dibawanya, dan meneladani akhlaq terpuji yang menghiasi dirinya sehari-hari. Hal-hal tersebut selalu dan harus selalu menjadi tema utama setiap majelis peringatan Maulid Nabi.

Karena itulah, dalam pendapatnya yang disiarkan secara luas melalui media online pribadinya, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, ulama besar dunia zaman sekarang yang kini menjabat ketua Persatuan Ulama Internasional, membolehkan perayaan Maulid Nabi sekaligus menyanggah anggapan bahwa merayakan Maulid Nabi SAW masuk dalam kategori bid’ah.

Perayaan seperti itu dibolehkan, guna mengingat kembali sirah perjuangan Rasulullah SAW, kepribadian beliau yang agung, dan misi yang dibawa beliau kepada alam semesta. Dalam fatwanya, Al-Qaradhawi melandaskan pendapatnya dengan mengatakan bahwa memperingati kelahiran Rasulullah SAW adalah mengingatkan umat Islam terhadap nikmat luar biasa kepada mereka. “Mengingat nikmat Allah adalah sesuatu yang disyari’atkan, terpuji, dan memang diperintahkan. Allah SWT memerintahkan kita untuk mengingat nikmat Allah SWT,” ujarnya.

Suka Cita Umat Rasulullah

Sejak dulu, Maulid Nabi memang selalu dikenang dengan beragam cara. Bahkan pada saat detik-detik Maulid Nabi sendiri, Allah SWT Yang Maha Berkehendaklah yang telah mengisyaratkan momentum tersebut sebagai momentum yang begitu bernilai dan layak dimuliakan.

Saat beliau dilahirkan, singgasana Raja Kisra terjungkal. Di belahan bumi lainnya, api abadi sesembahan kaum Persia yang selama ribuan tahun tak pernah redup, tiba-tiba mati begitu saja. Di kemudian hari, bahkan Rasulullah SAW sendiri memperingati Maulid-nya, dengan berpuasa di hari Senin, hari saat beliau dilahirkan.

Saat mengomentari berbagai peristiwa di atas yang dikaitkan dengan kelahiran Rasulullah SAW, Al-Qaradhawi mengatakan, karenanya, semangat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah semangat dalam menyambut kehadiran Islam itu sendiri.

Benar yang dikatakannya, sebab singgasana raja Kisra dan api sesembahan Persia adalah simbol-simbol kebathilan yang akan disingkirkan oleh cahaya hidayah yang memancar dari ajaran syari’at yang dibawa Rasulullah SAW.

Maka, dari waktu ke waktu, dengan cara-cara baik dan berbeda-beda, setidaknya sekali dalam setahun, umat Islam pun mengenang dan memperingati Maulid Nabi sebagai momentum yang amat istimewa. Bahkan disebutkan, momentum hari kelahiran beliau merupakan hari raya terbesar umat Islam, melebihi kebesaran hari-hari raya Islam lainnya. Sebab, tanpa hari Maulid Nabi, bagaimana mungkin ada ‘Idul Adha maupun ‘Idul Fithri.

Hari istimewa itu memang selalu mendapat tempat istimewa di hati umat Islam. Mereka senantiasa mengenang dan merayakannya dengan penuh suka cita.

Kehadiran beliau merupakan hadiah terindah. Sehingga, merugilah setiap orang yang tidak berupaya mengambil hadiah itu. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri mengatakan, “Aku adalah rahmat Allah yang dihadiahkan untuk kalian.”

Dari sini jelaslah, segenap upaya yang dikerahkan dalam memperingati Maulid Nabi SAW merupakan usaha untuk meraih hikmah dari kenikmatan besar yang telah Allah SWT berikan. Dari sini pula muncullah kecintaan dan ketaatan di hati kepada beliau sebagai tanda keimanan. Mengimaninya adalah tameng keselamatan dari kebingungan di dunia dan akhirat. Sementara, berpaling dari ajarannya adalah kegelapan tak berujung yang menimbulkan kesengsaraan dan kehinaan selamanya.

Buah Cinta yang Harus Dipetik

Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW akan membuahkan hasil dan faedah yang amat banyak. Yang terbesar dari faedah yang akan didapat terdapat pada tiga hal.

Pertama, ketaatan dan peneladanan, serta cermat saat melaksanakannya. Tidak jarang orang yang akan menaati perintahnya justru terjerumus masuk dalam dosa karena tidak cermat memahami maksud perintah itu.

Contoh kecil, taat pada suami dan orangtua adalah wajib, tetapi akan menjadi dosa ketika perintahnya berisi agar istri atau putrinya menanggalkan jilbab. Saling menasihati adalah perintah agama, tapi jika nasihat itu tidak diucapkan dengan santun, bukan pahala yang diterima, melainkan justru dosa yang tanpa disadari akan didapat. Hal-hal seperti ini tidak akan terjadi kalau kecintaan kepada Nabi SAW tumbuh secara tulus, memahami agama ini dengan bimbingan para ulama, dan selalu mengevaluasi diri atas tindak-tanduk sikap dan ucapan yang dilakukan setiap saat.

Seperti telah disebutkan, merayakan kelahiran Muhammad SAW memang merupakan amaliyah mulia dan bermanfaat sebagai media pengingat bagi umat. Tapi dalam beramal, termasuk mengadakan acara-acara keagamaan, tidaklah cukup bila hanya didasarkan niat baik. Bila karena penyelenggaraannya menyebabkan kepentingan umum terabaikan, kesan negatif terhadap Islam dan umatnya dapat saja muncul. Karenanya, seperangkat syarat berdakwah memang harus diperhatikan dan terpenuhi. Bila tidak, dakwah bukan hanya menjadi tidak efektif, malah dikhawatirkan menjadi modus yang tanpa disadari mencemarkan nama baik ajaran Rasulullah SAW itu sendiri, terutama di mata mereka yang belum memahami kemuliaan syari’at Islam.

Umat Islam di berbagai tempat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai cara mereka dalam mengekpresikan rasa cinta kepada manusia teragung sepanjang zaman itu. Berbagai aktivitas kebaikan dilakukan di dalamnya. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, memperdengarkan riwayat hidup Nabi yang sarat keteladanan, membaca shalawat bersama, menyampaikan nasihat-nasihat agama untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, hingga menyediakan hidangan makanan untuk memuliakan para tamu dan sebagai ungkapan rasa suka cita bersama dalam mengenang hari yang amat mulia.

Setelah itu, dapatkah kita, para pecinta Maulid, mengambil hikmah sepulangnya dari menghadiri acara tersebut? Apakah kita semua meneladani seluruh perilaku dan tindakan beliau SAW?

Itulah sebabnya para ulama mengatakan, momentum Maulid selayaknya bukan hanya diperingati setiap tahun, tetapi setiap saat, di setiap langkah kehidupan manusia di alam dunia ini. Dengan menghadirkan makna Maulid, sebagai media pengingat, setiap saat di hati pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan selalu terngiang, sebagai kendali kehidupan dalam menapaki jalan kebenaran menuju keridhaan Ilahi.
Oleh sebab itu pula, faedah kedua terbesar dari buah kecintaan pada Rasulullah SAW yang seharusnya dapat dipetik adalah keinginan sekuat tenaga agar kita keluar dari segala nafsu serta segala keangkuhannya. Nafsu adalah perusak segala ketaatan. Seseorang akan menolak kebenaran yang sebenarnya dia ketahui, enggan untuk mendengar nasihat, karena merasa bersih dan berilmu. Semua itu karena nafsu.

Dalam beribadah pun, nafsu ikut menunggangi tanpa diundang. Iman menjadi tidak sempurna. Bahkan, dapat saja ibadah menjadi gugur kalau seseorang menjadikan hawa nafsunya itu sebagai imamnya. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah beriman seorang di antara kalian hingga ia mengalahkan hawa nafsunya, mengikuti ajaran yang aku bawa.”

Ketika rasa cinta kepada Rasulullah SAW benar-benar tumbuh di hati secara tulus, ia akan mengikuti seluruh ajaran yang beliau bawa. Hingga, ia pun berusaha sekuatnya menghindar dari hawa nafsunya. Tidaklah mungkin rasa cinta yang tulus akan terkalahkan oleh hawa nafsunya.
Faedah ketiga bagi mereka yang di hatinya benar-benar tumbuh rasa cinta kepada Rasulullah SAW adalah kesiapan untuk mengorbankan jiwa dan raga, zhahir dan bathin, untuk membela agama yang beliau bawa. Meski hidup kita tak semasa dengan kehidupan beliau, ketidakrelaan pada peremehan hukum-hukum Allah SWT merupakan salah satu bentuk ekpresi rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Demikian pula, perjuangan guru dengan ilmunya, yang kaya dengan hartanya, yang miskin dengan tenaga dan doanya, para pejabat dengan jabatannya, dan seterusnya pada setiap profesi yang dijalani masing-masing, harus berpadu padan dalam berkorban, sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan itu semua, barulah hati beliau menjadi senang dan rela. Bukankah mencintai seseorang berarti kesiapan untuk berkorban agar hati orang yang dicintai menjadi senang karenanya?

Terlepas dari itu, yang penting untuk diingat, sesungguhnya umat beliaulah yang lebih butuh untuk mencintai beliau, bukan sebaliknya. Sayyidina Umar bin Khaththab bercerita, “Aku dan beberapa sahabat lain berjalan bersama Rasulullah SAW.
Kemudian beliau memegang tanganku seraya melanjutkan perjalanan.
Saat itu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, demi Allah aku mencintaimu.’
Lalu Nabi Muhammad SAW bertanya kepadaku, ‘Apakah cintamu padaku lebih besar daripada cintamu pada anakmu, wahai Umar?’
‘Ya,’ jawabku.
Beliau kembali bertanya, ‘Apakah cintamu padaku lebih besar daripada cintamu pada keluargamu?’
‘Ya,’ jawabku.
Beliau bertanya lagi, ‘Apakah cintamu padaku lebih besar daripada cintamu pada hartamu?’
‘Ya,’ jawabku.
Kemudian beliau bertanya, ‘Apakah cintamu padaku lebih besar daripada cintamu pada dirimu sendiri?’
‘Aku mencintai dirimu dari segala sesuatu kecuali atas diriku,’ jawabku.
Maka beliau berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian hingga diriku lebih kalian cintai dari kecintaan kalian pada diri kalian sendiri.’
Beberapa waktu kemudian aku kembali kepada beliau dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’
Rasulullah mengatakan, ‘Baru sekarang, wahai Umar’.”
Saat diceritakan tentang hal itu, Abdullah bin Umar putranya sempat bertanya, “Ayahku, apa yang telah kau lakukan sehingga kau kembali guna menyatakan hal tersebut?”
Umar menjawab, “Wahai anakku, aku keluar dan bertanya pada diriku sendiri, siapa yang lebih membutuhkan pada hari Kiamat nanti? Aku, ataukah Rasulullah? Aku sadar, aku lebih butuh kepada beliau daripada beliau kepadaku. Aku ingat bagaimana tadinya aku berada dalam kesesatan, kemudian Allah menyelamatkan diriku melaluinya.”

Tak Kenal, maka tak Cinta

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyah menuturkan sebuah hadits riwayat Ibnu Abbas RA. Rasulullah SAW bersabda, “Semua nabi kelak di hari Kiamat akan didudukkan di mimbar mereka masing-masing yang terbuat dari cahaya. Mereka menduduki mimbar mereka, kecuali aku yang tidak mendudukinya. Aku berdiri di hadapan Allah karena hatiku diliputi perasaan takut, aku akan dibawa ke surga, sementara umatku aku tinggalkan.

Lalu aku berkata kepada Allah, ‘Ya Allah, umatku. Ya Allah, umatku.’
Allah berfirman, ‘Ya Muhammad, apa yang akan Aku lakukan kepada umatmu?’
Aku berkata, ‘Ya Allah, percepatlah hisab umatku’.”
Maka setelah itu umat Nabi Muhammad segera dipanggil untuk dihisab. “Di antara mereka ada yang masuk surga dengan rahmat Allah. Di antara mereka ada juga yang masuk surga karena syafa’atku.”
Beliau melanjutkan, “Aku terus memberikan syafa’atku kepada umatku, sampai-sampai aku diberikan daftar nama umatku yang mereka sudah digiring menuju neraka, hingga Malaikat Malik penjaga pintu neraka berkata kepadaku, ‘Ya Rasulullah. Tampaknya kau tidak akan memberikan (membiarkan) satu pun dari umatmu untuk mendapatkan adzab Allah SWT’.”
Demikianlah sosok manusia teragung yang amat besar kasih sayang dan perhatiannya kepada umat. Kesadaran untuk mencintai diri beliau akan terbangun bila kita mengenal secara mendalam keagungan pribadi beliau dan memahami kemuliaan kedudukan beliau di sisi-Nya. Majelis Maulid Nabi adalah salah satu ajang yang amat baik untuk menumbuhkembangkan kesadaran umat untuk mencintai beliau. Kesadaran itulah yang dahulu kala telah menghiasi hati para sahabat Nabi.

Sebuah kisah diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik RA, “Di tengah-tengah berkecamuknya Perang Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi SAW terbunuh, hingga terdengarlah isak tangis di penjuru kota Madinah.

Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya.
Di tengah-tengah jalan, ia diberi tahu bahwa bapaknya, anaknya, suaminya, dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang.
Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia melewati beberapa jasad yang bergelimpangan.

“Siapakah ini?” tanya wanita itu.
“Bapakmu, saudaramu, suamimu, dan anakmu,” jawab orang-orang yang ada di situ.
Wanita itu segera menyahut, “Apa yang terjadi pada diri Rasulullah?”
Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.”
Maka wanita itu bergegas menuju Rasulullah SAW dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah. Aku tak akan mempedulikan (apa pun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!”

Bicara masalah cinta kepada Nabi, para sahabat adalah contoh terdepan dalam perwujudan cinta kepada beliau SAW. Cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan. Dan para sahabat Rasulullah SAW adalah orang yang paling mengenal dan paling mengetahui kedudukan beliau SAW.

Hal tersebut sebagaimana tergambarkan dalam suatu peristiwa ketika Abu Sufyan bin Harb, sebelum masuk Islam, bertanya kepada sahabat Zaid bin Ad-Datsinah RA, yang tertawan kaum musyrikin dan dikeluarkan penduduk Makkah dari Tanah Haram untuk dibunuh, “Ya Zaid, maukah kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad untuk kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?”
Serta merta Zaid menjawab, “Demi Allah! Aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!”

Abu Sufyan pun berkata, “Tak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!”
Karena cinta, membiarkan diri beliau tertusuk sebatang duri pun hati tak rela. Karena itu, seseorang yang rajin menghadiri Maulid Nabi di sana-sini, dan mengaku mencintai beliau, selalu berharap akan syafa’at beliau, dan gemar menyenandungkan pujian kepada beliau, tidaklah pantas menyakiti hati beliau lewat perilaku sehari-hari yang tak terpuji.

Sejarah Berulang

Al-Quran telah merekam sebuah zaman yang sangat gelap. Kebodohan dan kesombongan menjadi kebanggaan. Anak-anak kecil laki-laki yang baru lahir dibunuh begitu saja. Fir’aun, yang pada waktu itu paling berkuasa, mengaku dirinya tuhan. Saat itu, lahirlah seorang bayi bernama Musa. Kelak ia terpilih sebagai nabi yang membawa ajaran kebenaran, membangkitkan kemanusiaan, dan menyelamatkan manusia dari kesesatan. Selain kisah Musa AS, baik sebelum maupun sesudahnya, kisah-kisah dibangkitkannya seorang nabi memenuhi lembaran-lembaran sejarah di setiap zaman.

Pertengahan abad keenam Masehi, zaman seperti itu muncul kembali. Syaikh An-Nadwi melukiskannya sebagai puncak zaman hancurnya kemanusiaan. Akal, yang Allah berikan kepada mereka, digusur dengan minuman keras, yang sangat merajalela. Manusia pada waktu itu tidak lagi berjalan dengan akalnya, melainkan disetir oleh hawa nafsu kebinatangannya. Yang kuat memeras yang lemah. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan semata-mata simbol seks dan pemuas hawa nafsu. Aqidah yang dibawa para nabi sebelumnya, lenyap ditelan kebodohan. Mereka tidak lagi menyembah Allah, Pencipta alam semesta, melainkan menyembah patung-patung yang mereka ciptakan sendiri. Buku-buku suci yang dibawa para nabi, mereka gerogoti kewahyuannya.

Jazirah Arab waktu itu benar-benar dalam puncak kegelapan dan kerendahan moral. Sayyid Quthub menggambarkan, kezhaliman pada saat itu menjadi suatu keharusan. Jika tidak berbuat zhalim, pasti dizhalimi. Minuman yang memabukkan bukan hanya kebiasaan, melainkan sebuah kebanggaan. Berganti-ganti pasangan merupakan hal biasa. Wanita hanya dijadikan tempat pelampiasan nafsu bejat kaum lelaki. Kemanusiaan di Jazirah Arab saat itu benar-benar berada pada titik nadir.
Pada zaman itu, seseorang bernama Abrahah tiba-tiba berniat untuk menghancurkan Ka’bah, tempat yang sangat Allah sucikan. Suatu tindakan kebodohan yang demikian jelas. Abrahah benar-benar ingin menghancurkan Rumah Allah itu.

Ia dan pasukan gajahnya sudah berangkat dari Yaman menuju Makkah. Namun Allah Mahatahu akan niat jahat Abrahah. Sebelum mereka mencapai tujuannya, Allah segera mengirimkan burung-burung Ababil, menyebarkan kepada mereka batu-batu api neraka yang menghanguskan.

Pada tahun yang sama dengan peristiwa tersebut, terlahirlah seorang bayi nan mulia bernama Muhammad dari rahim suci seorang ibu bernama Aminah. Hari itu tepatnya tanggal 12 Rabi’ul Awal, tahunnya kemudian dikenal dengan Tahun Gajah.

Muhammad, dialah yang kemudian Allah pilih sebagai rasul pembawa risalah Islam. Kepadanya Allah turunkan Al-Quran sebagai petunjuk jalan kehidupan.

Setelah melewati berbagai gejolak perjuangan yang banyak menumpahkan darah dan air mata, muncul zaman baru yang sangat mengagumkan bagi bangkitnya kemanusiaan. Manusia yang benar-benar manusia, tunduk kepada Allah, Pencipta segala makhluk. Keadilan benar-benar ditegakkan, dan kezhaliman dihancurkan. Wanita dihargai kemanusiannya, minuman keras dilarang, karena merusak akal dan pikiran. Kejahiliyahan pun diperangi dan dimusnahkan.

Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Ajaran-ajarannya menjadi acuan bagi siapa saja, pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa, untuk meniti kehidupan yang lebih baik dan harmonis dalam ridha Sang Pencipta. Rambu-rambunya diletakkan untuk dijadikan pedoman perjalanan hidup untuk selamat sampai tujuan.

Jika ada rambu yang dilanggar, akibat buruk akan menimpa pelanggar itu, dan tak jarang juga menimpa orang lainnya. Lihatlah, sebuah kecelakaan di jalan raya, korbannya tidak hanya pelaku pelanggaran, tapi juga menimpa pengguna jalan yang lain.

Demikianlah. Zaman berganti zaman. Tujuh abad setelah masa keemasan Islam, umat manusia kembali diliputi kegelapan. Mereka banyak meninggalkan ajaran-ajaran agama yang telah menyelematkan kaum terdahulu dari kebinasaan. Kerusakan semakin menjadi-jadi. Hingga saat ini.

Potret kehidupan masyarakat zaman modern sekarang kembali penuh dengan proses penghancuran kemanusiaan, mirip dengan zaman Jahiliyah sebelum Nabi SAW dilahirkan.
Minuman keras disahkan, aurat wanita dipertontonkan, kezhaliman merajalela di sana-sini. Yang kuat memeras dan menghancurkan yang lemah. Ajaran Allah tidak dihiraukan, bahkan ditinggalkan. Orang-orang yang mencintai Allah dicemooh dan mendapatkan banyak tentangan, atau minimal banyak yang tidak menghiraukan ajakannya.

Jangan Kalian Lupakan

Dalam konteks seperti inilah Maulid Nabi memiliki peran sentral untuk menyadarkan umat akan nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada mereka, agar mereka dapat membangkitkan semangat untuk kembali menghidupkan sunnah-sunnah nabinya. Al-Qaradhawi mengatakan, “Ketika berbicara tentang peristiwa Maulid, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syari’at, dan sangat dibutuhkan.

Allah SWT memerintahkan demikian kepada kita dalam banyak firman-Nya. Misalnya, ‘Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikuruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang kamu tidak dapat melihatnya. Dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan (penggambaran bagaimana hebatnya perasaan takut dan gentar) dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.’ (QS Al-Ahzab: 9-10).

Allah SWT memerintahkan kita mengingat suatu peperangan, misalnya Perang Khandaq atau Perang Ahzab, di mana kafir Quraisy dan Suku Ghathfan mengepung Rasulullah SAW. Dalam kondisi serba sulit ini, Allah SWT menurunkan bala bantuannya berupa angin kencang dan bantuan malaikat.

Ingatlah peristiwa itu. Ingatlah, jangan kalian lupakan itu semua. Ini jelas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat, dan tidak melupakannya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, ‘Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.’ (QS Al-Anfal: 30).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ telah besepakat untuk mengkhianati Rasulullah SAW. Di Madinah, mereka membuat makar atau siasat, namun makar Allah SWT lebih kuat dan lebih cepat dari mereka. Allah SWT sendiri yang menyatakan hal itu dalam firman-Nya, ‘…Allah sebaik-baik pembuat makar’.”

Lewat nada bertanya Al-Qaradhawi menegaskan, perayaan Maulid Nabi bukan sesuatu yang bid’ah, bahkan dianjurkan. Katanya, “Peringatan Maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ketika acara Maulid seperti demikian, atas alasan apa Maulid Nabi masih disebut bid’ah?”

Fatwa Al-Qaradhawi tersebut dikeluarkannya untuk menjawab sejumlah pertanyaan umat Islam, antara lain, “Apa hukum merayakan Maulid Nabi SAW dan perayaan Islam lainnya, seperti perayaan tahun baru Hijriyah, Isra Mi’raj, dan lainnya?”
Di antara jawaban Al-Qaradhawi lainnya, “Termasuk hak kami adalah mengingat sirah perjalanan Rasulullah SAW dalam ragam peringatan. Ini bukan peringatan yang bid’ah. Karena kita mengingatkan manusia dengan sirah Nabawiyah, yang mengikatkan mereka dengan misi Muhammad SAW. Ini adalah kenikmatan luar biasa. Adalah dahulu para sahabat – semoga Allah meridhai mereka – kerap mengingat Rasulullah SAW di berbagai kesempatan.”

Di antara contohnya, Al-Qaradhawi menyebutkan, perkataan seorang sahabat, Sa’d bin Abi Waqash RA, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami dengan peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW sebagaimana kami menjadikan mereka menghafal satu surah dalam Al-Quran.” Ungkapan ini, menurut Dr. Qaradhawi, menjelaskan bahwa para sahabat kerap menceritakan apa yang terjadi dalam Perang Badar, Uhud, dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat Perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.

Persatuan Umat

Persatuan umat dianggap sejajar dengan inti tegaknya agama, yaitu taqwa dan penghambaan. “Sesungguhnya umat kalian ini adalah satu umat dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya’: 92). Persatuan umat adalah jalan menuju kemenangan, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dan agama yang benar untuk memenangkannya di atas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath: 26).

Guna mewujudkan persatuan umat, yang diperlukan adalah adanya tekad kolektif dan kesabaran, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah bantuan melalui kesabaran dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang penyabar.” (QS Al-Baqarah: 153). “Bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar.” (QS Ar-Rum: 60).

Melihat persatuan umat, musuh-musuh Islam merasa tersiksa. Loyalitas sahabat kepada Nabi SAW yang diwariskan kepada tabi’in serta ulama dan para pencinta beliau sangat meresahkan mereka. Maka mulailah mereka merancang untuk menjauhkan mereka dari Rasullah SAW dan ajarannya.

Dengan segala upaya yang bisa dirasakan, langkah itu sangat kuat aromanya, dengan munculnya perilaku yang tidak santun dan ekstrem dalam berpendapat tanpa mau mendengar hujah dan argumentasi orang lain. Pengkafiran, pensyirikan, pembid’ahan adalah syiarnya.

Mungkin dapat dimaklumi ketika itu hanya sebatas pembahasan dan kajian. Tapi kondisinya kini sudah mulai menjurus pada tindakan untuk membunuh saudara-saudaranya sendiri yang seiman. Kuman perpecahan ini sudah tampak nyata menyebar di Pakistan dan Irak. Mereka memecah belah umat dengan kebodohan orang-orang yang semangatnya membela agama tanpa didasari ilmu dan akhlaq yang mencukupi. Hingga, bukan pahala yang mereka dapatkan atau kejayaan agama, melainkan tepuk tangan musuh-musuh Islam.

Ditemukannya bom rakitan di Masjid Agung Cirebon pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tempo hari, yang alhamdulillah tidak sampai meledak berkat perlindungan Allah SWT, menjadi bukti: umat Islam di Indonesia pun berada dalam bahaya perpecahan, adu domba antar-sesama muslimin, menebarnya benih permusuhan sesama saudara seiman. Dampaknya tentu sangat merugikan umat secara keseluruhan.

Apabila umat ini rukun dan bersatu, tentu Nabi akan senang dan Allah pun akan ridha. Kalau umat bermusuhan, kekuatan pun akan hilang, musuh-musuh Islam kembali menari kegirangan. Umat Islam harus memilih: keridhaan Allah dan Rasul-Nya, atau kegembiraan musuh-mush Allah, yang akan senang dengan perpecahan umat.

Memuliakan Majelis Maulid

Memperingati hari lahirnya manusia mulia yang dimuliakan oleh Dzat Yang Mahamulia adalah bentuk ungkapan rasa cinta yang mendalam dari lubuk hati para pencinta Nabi. Syiar kecintaan ini menjadikan orang yang lalai dapat mengingat, mengenang, serta meneladani kembali akhlaq Rasulullah SAW.

Namun yang perlu diingat, dalam memperingatinya, hendaknya tetap tidak keluar dari bimbingan para ulama. Dengan demikian, amal baik yang dilakukan tidak terkontaminasi oleh ketidaktahuan cara pengungkapan rasa cinta itu sendiri.

Sebagaimana dituturkan Ustadz Muhammad Ahmad Vad’aq, pengasuh Ponpes Al-Khairat Bekasi, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam peringatan Maulid Nabi SAW adalah seperti terjadinya ikhtilath, yaitu perbauran antara laki-laki dan perempuan dalam satu majelis. Banyak ditemui adanya wanita yang melantunkan bacaan Al-Quran atau membaca saritilawah di tengah kerumunan pria. “Ini dilarang agama,” katanya tegas.

Selain itu, para penceramah di majelis Maulid hendaknya juga tidak membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu) sebagai dalil yang mendukung Maulid Nabi. “Hal itu dapat menjadi celah bagi para pembenci Maulid untuk menentang kegiatan peringatan Maulid Nabi. Rasulullah sendiri bersabda, ‘Barang siapa berbohong atasku (memalsukan haditsku), persiapkanlah tempatnya di neraka.’ Kita tidak butuh hadits-hadits itu sebagai hujjah penguat bagi Maulid. Banyak ayat dan hadits shahih sebagai dalil yang benar terkait bolehnya perayaan Maulid,” katanya lagi.

Selain itu ia juga mengingatkan agar majelis Maulid tidak larut dalam gelak tawa yang tak terkontrol atau dengan bahasa yang tak layak diungkapkan di majelis yang mulia tersebut. Nabi sendiri melarang hal-hal tersebut. Hendaknya, pembicaraan pun tak keluar dari tema mahabbah kepada Nabi, rahmat, keteladanan, dan segala yang terkait pada kesempurnaan akhlaq beliau, serta penjelasan kepada orang awam tentang dalil peringatan Maulid, agar mereka memahami dengan jelas apa yang mereka lakukan. Inilah yang dilakukan para salaf, seperti dapat dibaca dari ceramah-ceramah Habib Ali Al-Habsyi, penyusun kitab Maulid Shimtud Durar, dan yang lainnya.

Yang terakhir, “Jauhkan acara ini dari kepentingan-kepentingan sesaat, seperti untuk kepentingan partai dan kelompok-kelompok yang bertujuan menggalang massa dengan membeli dan membodohi para ulama yang mempunyai pengikut banyak dengan harga yang murah. Berapa pun uang itu sangatlah tidak sebanding dengan kesucian acara itu sendiri,” kata Ustadz Muhammad.

Semoga dengan kejujuran dan ketulusan dalam mencintai sang kekasih Allah ini, kita bisa menerima dengan lapang dada segala nasihat dari mana pun datangnya. Cinta yang tulus akan terbukti dengan keteladanan, bukan dengan hawa nafsu, apalagi sekadar menjalankan tradisi semata. Maulid Nabi harus menjadi mata air pelajaran yang jernih bagi umat dalam mengenal sosok Nabi Muhamammad SAW. Agar kemudian umat mendapatkan keberkahannya, meraih cintanya, meneladani akhlaqnya, hingga akhirnya kelak beroleh syafa’atul ‘uzhma, syafa’at teragung.

Detik-detik Terakhir Kehidupan Insan Mulia Rasulullah SAW

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwasanya ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, beliau mengumpulkan kami di rumah Siti Aisyah ra.

Kemudian beliau memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda: “Marhaban bikum, semoga Allah memperpanjang umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepadamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu menyombongkan terhadap Allah. ”

Allah berfirman: “Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa. ”

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Beliau menjawab: ajalku telah hampir, dan akan pindah ke Hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul tempat tinggal dan ke Arsyila ‘la. ”

Kami bertanya: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?

Beliau menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.”

Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan beliau di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian beliau bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Bila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka satu-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tentaranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan harus yang mulai shalat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua. ”

Semakin sekarat
Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari banyak yang mengunjungi beliau, sampailah datangnya hari Isnin, di saat beliau menghembus nafas yang terakhir.

Sehari menjelang beliau wafat yaitu pada hari Minggu, penyakit beliau semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assolah yarhamukallah.”

Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit?” Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti kata yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk.

Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: “Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam shalat.”

Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?” Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam shalat tersebut.

Ketika Abu Bakar melihat ke tempat Rasulullah yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Beliau bertanya: “Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu? Siti Fatimah menjawab: Orang-orang menjadi bising dan bingung karena Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka. ”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka beliau berjalan menuju ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, setelah itu beliau melihat ke orang banyak dan bersabda: “Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, karena aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini. ”

Malaikat Maut Datang Bertamu
Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak dapat masuk, dan hendaklah ia kembali saja.

Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit. ”

Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Dapatkah saya masuk? “Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu beliau bertanya kepada putrinya Fatimah:” Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: “Seorang pria memanggil beliau, saya katakan kepadanya bahwa beliau dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma. ”

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia?” Fatimah menjawab: “Tidak wahai baginda.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: “Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelezatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan ‘Assalamualaika ya Rasulullah. “Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku? ”

Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang.

Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? “Saya tinggal ia di langit dunia?” Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah. ”

Ketika Sakaratul Maut
Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab; “Sesungguhnya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.”

Beliau bersabda: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Hai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: Sesungguhnya pintu-pintu surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu. ”

Beliau SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah satu-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti. ”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang kabar yang menggembirakan aku? ”

Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang membaca Alquran sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku? ”

Jibril menjawab: “Saya membawa kabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan surga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu. ”

Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku? “Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW.

Ali ra bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (parfum) dari surga.

Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh beliau sampai di pusat perut, beliau berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut? “Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW.

Kesedihan Sahabat
Berkata Anas ra: “Ketika aku lalu di depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam karena takut neraka Sa’ir. ”

Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahwasanya Mu’adz bin Jabal ra telah berkata: “Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana selama 12 tahun. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang, kemudian orang itu berkata kepadaku: “Apakah Anda masih lena tidur juga wahai Mu’az, padahal Rasulullah SAW telah berada di dalam tanah.”

Mu’adz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu ia mengucapkan: “A’uzubillahi minasy syaitannir rajim?” Setelah itu ia lalu mengerjakan shalat.

Pada malam berikutnya, ia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama. Mu’adz berkata: “Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan?” Kemudian ia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebagian penduduk Yaman.

Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu’az berkata kepada mereka: “Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk dipahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sulit dipahami, beliau membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu’adz menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah:
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?”
(Az-Zumar: 30).

Maka menjeritlah Mu’adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sadar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur? ”
(Ali-lmran: 144)

Maka Mu’adz pun menjerit lagi: “Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad? “Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: “Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti domba yang tidak ada pengembala. ”

Kemudian ia berkata: “Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?” Lalu iapun pergi meninggalkan mereka. Di saat ia berada pada jarak sekitar tiga hari perjalanan dari Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

Lalu Mu’adz mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu’az bertanya kepada orang tersebut: “Bagaimana kabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai Mu’az, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu’adz terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu menyedarkannya, ia memanggil Mu’adz: Wahai Mu’adz sadarlah dan bangunlah. ”

Ketika Mu’adz sadar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddik, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu’adz melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu.

Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah.
Mu’adz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan adzan Subuh. Bilal mengucapkan: “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?” Mu’adz menyambungnya: “Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?” Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri lagi.

Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia adalah Mu’adz yang sedang pingsan.

Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu’adz, lalu ia berkata: “Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu’az, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:” Sampaikanlah salamku kepada Mu’adz. ”

Maka Mu’adz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: “Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada beliau, ketika beliau akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah istri beliau Siti Aisyah ra. ”

Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu’adz mengucapkan: “Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?” Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia berkata: “Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu’az menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: “Assalamualaikum ya ahli bait.”

Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang hal halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW.”

Kemudian Fatimah berkata lagi: “Masuklah wahai Mu’adz?” Ketika Mu’az melihat Siti Fatimah dan Aisyah ra ia terus pengsan dan tak sadarkan diri. Ketika ia sadar, Fatimah lalu berkata kepadanya: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sampaikanlah salam saya kepada Mu’adz dan khabarkan kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama.”

Kemudian Mu’az bin Jabal keluar dari rumah Siti Fatimah menuju ke arah kubur Rasulullah SAW.

Sumber : http://www.riyaadhuljannah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=18&Itemid=154

6 Hari Puasa Syawal Dan Keutamaannya

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda:

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.”)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala’amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya’ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosam dan berat apalagi benci.

Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar:

“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) ” (Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan,

“Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”

Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.

Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu

Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)

Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.

Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!

Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah

Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)

Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Khutbah Idul Fitri 1431 H: Ramadhan Telah Pergi [Saiful Islam Mubarak]

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله … وسعت رحمته وتعالت قدرته و تجلت عظمته أشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلوات الله
وسلامه عليك يا رسول الله وإنك لعلى خلق عظيم بلغت الرسالة وأديت
الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في سبيل الله حق الجهاد حتى أتاك
اليقين وعلى آلك وأصحابك ومن اتبع سنتك واهتدى بهداك وسار على
نهجك إلى يوم الدين . أما بعد
فمن آيات الله البينات قوله تبارك وتعالى :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18 )

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

1. Kesaksian Ramadhan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hamba-hamba Allah yang sama-sama mengharap ampunan dan rahmat-Nya !

Ramadhan bulan al Qur’an, bulan shabar, bulan jihad, bulan perjuangan, bulan pembersih jiwa pencuci hati dan bulan perlombaan guna meraih takwa dan kebebasan dari siksa, kini dia telah pergi meninggalkan kita. Kapan dia akan kembali menemui kita?
Dia pasti akan kembali menemui kita manakala hari kesaksian telah tiba. Dia akan menjadi saksi pembela atau penuntut. Pembela bagi yang sukses meraih takwa dan penuntut atas orang yang membiarkannya pergi tanpa meninggalkan bekas yang berarti.
Tiada seorang pun dari kita yang memiliki bukti dimana posisi kita?

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Bulan al-Quran kini telah pergi. Saat belum pegi dia menyaksikan seperti apa sikap kita terhadap Al-Quran apa yang telah kita perjuangkan untuk menegakan ajarannya, langkah apa yang telah kita ambil untuk membela haq dan menghancurkan kebatilan ?

Dia juga menyaksikan bagaimana kita mengisi bulan yang penuh rahmat dan ampunan, apakah telah kita nikmati dengan qiyamullail dan tadabbur al-Quran, merintih sambil berdiri dihadapan Yang Maha Tinggi, menunduk dengan ruku’ dan sujud hingga mencapai nikmat khusyu, mengikuti akhlak ibadurrahman terdahulu. ataukah hanya diisi dengan begadang tanpa membekas pada qalbu?

Shaum adalah ibadah yang dapat menambah kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan. Meski kita telah melaksanakan ibadah shaum, namun, apakah kita telah meraih kekuatan baru untuk menguasai tuntutan hawa nafsu? Baik tuntutan yang berkaitan dengan pandangan, pendengaran,ngkapan, pemikiaran, angan-angan, ataupun lainnya? Atau hanya sekedar menahan haus dan lapar laksana pelaku aksi mogok makan ?

2. Shaum pengendali hawa nafsu

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hadirin sidang ‘Ied rahimakumullah !

Pada tahun 1431 H ini banyak sekali masyarkat yang kehilangan masa depan. Bukan kehilangan tempat kerja mencari makan, bukan pula kehilangan jabatan di pemerintahan, melainkan kehilangan arah hidup dan tujuan, karena mereka sibuk mengejar kenikmatan yang akan pergi, dan mereka rela menjauh dari kenikmatan yang sebentar lagi akan tiba. Mereka mengejar kehidupan yang belum jelas, dan menjauh dari kenikmatan yang pasti.

Para politisi terus berupaya melakukan perubahan, namun harapan umat masih jauh dari harpan. Banyak pihak yang ingin melakukan perbaikan. Perbaikan apakah kiranya yang dapat mengarahkan umat menuju keselamatan? Apakah perbaikan politik yang terlukiskan dalam perubahan struktur kepimpinan? Atau perbaikan sosial dan ekonomi yang menjadi dambaan umumnya masyarakat setaipa zaman? Sungguh semua pebaikan tidaklah akan berarti tanpa disertai perbaikan keyakinan tentang hari pembalasan.

Julukan “Negara maju” telah diraih oleh beberapa negara hanya karena kemajuan sains dan teknologi. Ternyata, dengan kemajuan tersebut banyak rakyat yang kehilangan tujuan hidup yang hakiki. Apa yang telah mereka pandang sebagai suatu kemajuan tidaklah lebih dari patamorgana yang telah banyak menipu manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang penuh duri dan derita.

Dengan semakin lengkapnya fasilitas hidup, semestinya manusia semakin tunduk kepada Yang Mahaagung, semakin merendah dihadapan Yang Mahakuasa. Namun fakta berbicara, kebanyakan dari mereka malah semakin angkuh dan lupa diri, tidak sadar bahwa ajal tidak lama lagi akan tiba. Mengapa hal ini terjadi? tidak lain karena kebanyakan manusia berjuang hanya untuk melakukan perbaikan masalah kehidupan yang tidak pasti. Sementera perbaikan status sebagai hamba dan khalifah mereka lupakan. Akhirnya mereka mengaku maju dan mulia padahal mereka sedang mengalami kemunduran dan terancam kehinaan.

Mereka merasa bangga dengan luasnya ilmu dan berlimpahnya harta, pada saat yang sama mereka sibuk menjadi penyembah ilmu dan pelayan harta. Kapan mereka akan dapat menikmati kemerdekaan? Mereka mencurahkan segala upaya untuk meraih cita-cita. Ternyata mereka hanya dikuasai mimpi karena kepuasan hakiki yang mereka nantikan tak kunjung tiba. Sungguh celaka orang yang jauh dari yang Mahakuasa meski dekat dengan para penguasa.

Jika mereka habiskan waktu untuk melayani jabatan; jika mereka sia-siakan kesempatan akibat sibuk mengejar kekayaan; kapan mereka akan meraih kesuksesan hidup yang bebas dari ancaman?

Sungguh, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, meski diharapkan dapat merubah kondisi politik, sosial dan ekonomi, namun tidaklah akan mampu merubah nasib bangsa kecuali dengan merubah apa yang ada pada nafsu-nafsu mereka.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ
لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ(11)

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada nafsu-nafsu mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا
عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ(53)

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga mereka merubah apa yang ada pada nafsu-nafsu mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (QS. 8:53)

Dengan ibadah shaum, semoga kita meraih kekuatan baru untuk mengengdalikan hawa nafsu.

3. Shaum dan Jihad

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hamba-hamba Allah yang tengah mempersiapkan diri untuk berjuang !!!

Kesempatan untuk pembekalan diri dengan menggunakan bulan suci telah berlalu. Kini tibalah saatnya untuk melangkah guna menghadapi tantangan baru. Tiada kesempatan bagi kita untuk berjuang kecuali sekarang. Tiada kesempatan yang tersisa untuk thaat kepada Allah selain hari ini, sementara besok masih dalam khayalan. Kesempatan menggunakan segala fasilitas hidup demi meraih kehidupan masa depan yang abadi, tidak lama lagi akan berakhir. Karena itu,

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ
نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia.

Gunakan semua yang Allah titipkan kepadamu untuk beramal demi meraih kesenangan hakiki; manfaatkan semua fasilitas hidupmu demi meraih kebahagiaan pada masa depan yang tidak akan berkesudahan. Janganlah sampai lupa hakikat nasibmu dari dunia, jabatanmu tidak lama lagi akan berakhir, usiamu sebentar lagi dijemput ajal, sebanyak apapun kekayaanmu tidaklah kamu nikmati kecuali hanya sebentar nian. Setinggi apapun statusmu saat ini boleh jadi besok kamu sudah menjadi mayit yang tak berdaya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sungguh banyak orang yang ikut berhari raya bersama kita pada tahun lalu, kini mereka sudah berada di alam gaib.

Pada hari raya mendatang boleh jadi kulit kita sudah terkelupas, daging kita sudah menyatu dengan tanah dan tulang belulang kita sudah berserakan. Dan hari ini merupakan hari raya yang terakhir.

Kedatangan Hari Raya empat belas abad yang silam telah mendapat sambutan hangat dari para shahabat Rasul, shalihin, dan mujahidin, karena dengan meningkatnya kualitas ibadah pada bulan Ramadhan, mereka telah memiliki semangat baru untuk berda’wah, melanjutkan perjuangan menengakkan haq dan menghancurkan kebatilan, melawan musuh Allah dimana saja berada.

Semangat tersebut mereka raih karena mereka, dengan sungguh-sungguh, telah mengikuti pengkaderan rabbani dalam bulan suci, berupa qiyamullail dengan khusyu dan berinteraksi dengan al-Qur’an setiap waktu, hingga mereka menjadi shahabat intim yang abadi bagi al-Qur’an, mereka berbicara dengan al-Qur’an, berfikir dengan bimbingan al-Qur’an dan bergerak bersama al Qur’an, baik pada waktu siang ataupun pada waktu malam. Mujahidin ahli Badar patut berbahagia dengan datangannya Hari Raya, karena mereka telah sukses melawan kafir Quraisy… Dengan kesuksesan itu perjalanan da’wah terbuka lebar dihadapan mereka…. yang membuat mereka semakin yakin akan berkibarnya panji agama yang haq dimuka bumi…. dan terhinanya aturan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan. Kedatangan hari raya telah membuat pasukan Shalahuddin merasa bahagia, karena pada bulan Ramadhan mereka telah mampu menyelamatkan tanah suci al Quds dari tangan-tangan kotor musyrikin. Dengan kemenangan ini suara al-Qur’an terdengar disemua penjuru dunia, dan fatwa ulama menjadi solusi bagi semua problem yang dihadapi umat.

Mari kita melihat apa yang terjadi di negeri kita saat ini?

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sungguh, Hari Raya adalah hari bahagia bagi para pejuang yang meraih takwa, siapakah orang yang meraih takwa itu? Allah Mahatahu, apakah kita telah melakukan ibadah dengan benar? Jika ya, pasti kita mampu melenyapkan kemunkaran dan kemaksiatan dimana saja ditemukan? Allah telah berfirman:

إِنَّ الصََّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.

Kini kita dituntut untuk membuktikannya

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Ikhwatal imani wal Islam rahimakumullah

Setelah Ramadhan pergi, patutkah kita tersenyum, sementara alam diskitar kita menangis karena mereka menyaksikan bahwa dunia Islam yang penuh dengan kenikmatan ilahi ini masih kaya dengan kemaksiatan.

Berita bohong masih mendominasi mass media; persekongkolan kaum musyrikin masih mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk dari kaum yang mengaku muslim; para ulama dan pembela kebenaran kerap mendapat julukan yang membingungkan umat; agama diperalat untuk mencari harta; al-Quran diperalat untuk mencari kepercayaan sesaat; terma-terma dalam Islam telah tercemar karena sering disalahgunakan; akhirnya masyarakat awam semakin bingung, orang miskin tetap miskin dan dibiarkan kelaparan hingga ada yang berani meninggalkan iman; rakyat bodoh tetap bodoh karena dibiarkan jauh dari bimbingan hingga ada yang terpaksa melakukan kejahatan; pengangguran, dari hari kehari semakin bertambah dan berkeliaran di setiap persimpangan jalan, padahal dunia Islam terbukti penuh dengan berbagai jenis kekayaan alam. Dengan memandang fenomena ini, apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah termasuk orang-orang yang kufur?

Mana penerus ahli Badar, sementara takhayul, khurafat, kemusyrikan, dan penyembahan kepada selain Allah semakin leluasa melebarkan sayapnya. Mereka tersebar di setiap penjuru tanah air hingga masuk dan tersebar ke setiap lapisan masyarakat, karena terus-menerus diekspos berbagai madia baik cetak ataupun elektronik. Mana pelanjut pasukan Badar yang gagah berani melawan kuffar? Mana penerus Bung Tomo yang telah mengumandangkan takbir ditengah kepungan dan kejahatan orang kafir? Mana pelanjut pangeran Diponegoro yang telah berani berkata haq meski berada diujung tombak? Mana pelanjut Shalahuddin al-Ayyubi, sementara masjid al Aqsha masih berada dalam genggaman Yahudi…. Apakah patut kita mengaku telah melaksanakan kewajiban, sementara shalat yang kita lakukan belum mampu mencegah kemunkaran dan kemaksiatan?

4. Evaluasi

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hadirin sidang ‘Ied rahimakumullah !

Sungguh Allah Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kita lakukan pada bulan suci. Kini bulan yang penuh rahmat dan ampunan itu telah tiada, ia pergi meninggalkan kita. Apakah kita akan bertemu kembali pada tahun berikutnya atau kita akan dipangil untuk menghadap keharibaan Yang Mahatinggi sebelum dia kembali? Tak ada seorangpun diantara kita yang dapat mengetahui kalau dirinya akan hidup sampai esok lusa, apatah lagi hidup sampai bulan Ramadan empat belas tiga dua. Sekiranya kita belum meraih rahmat dan ampunan, apa yang akan kita lakukan bila kita sudah berada di ruang sidang untuk menghadap Hakim

Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui, mengetahui terhadap semua prilaku insan, . Inilah pengadilan yang hakiki yang disaksikan semua makhluk meliputi manusia, jin dan binatang. Dengan kecanggihan teknologi ilahi, semua kesalahan manusia akan tampak, semua dosa akan jelas, dan semua maksiat yang telah dilakukan akan tersingkap. Rekaman suara hati tidak dapat dipungkiri meski saat ini terus ditutupi. Ketika itulah datangnya rasa takut yang tidak akan berujung, rasa malu yang tidak akan berakhir, dan rasa geri yang tidak akan berhenti. Semua akan kita alami bila kita tidak mendapat ampunan ilahi akibat gagal dalam mengisi bulan suci.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jika kesuksesan sementara di dunia tidak pernah dapat diraih kecuali dengan kelulusan dalam satu proses ujian. Apakah mungkin kesuksesan hakiki dan abadi di akhirat nanti akan dapat kita raih tanpa ujian?

Kehidupan dunia adalah lembaran ujian yang mesti diisi dengan benar untuk meraih sukses pada hari pembalasan. Hanya saja banyak sekali dari kita yang tidak menyadari bahwa kita sedang menghadapi ujian. Nikmat sehat merupakan amanah yang sering dilupakan, apakah kita telah mampu memanfaatkannya demi berjuang membela hak dan keadilan; nikmat harta merupakan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, apakan kita mampu menggunakannya demi kelangsungan da’wah dan keselamatan ummat dari bahaya kemusyrikan.

Bahaya kemusyrikan yang senantiasa mengancam fuqara dan masakin; Usia panjang adalah amanat yang sering diabaikan, apakah kita mampu mengisinya dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan ummat beriman; dan ni’mat ilmu adalah amanat yang sangat berharga bila diamalkan, apakah kita mampu menggunakannya untuk meluruskan aktfitas manusia dan mengarahkan mereka menuju ridha arrohman.. semua kenikmatan itu adalah materi ujian. Kita tidak lama lagi akan diperiksa tentang semua kenikmatan yang telah kita terima sejak dahulu hingga hari ini hari lebaran,. Diperiksa di hadapan Pencipta yang telah menjadikan mati dan hidup sebagai ujian.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

(Dialah) yang telah menciptan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa diatanramu yang lebih baik dan ikhlas amalnya Kesempatan beribadah tidak hanya pada bulan Ramadhan. Selama kita masih dapat bernafas maka selama itu pula kita wajib beramal shaleh.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) .

Sungguh beruntung orang yang melanjutkan qiyamullail setelah ramadhan berakhir. Sungguh berbahagia orang yang melanjutkan tadarus al-Quran hingga ajal tiba. Sungguh sukses orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu dimanpun dia berada. Sungguh sukses orang yang hidup berjamaah hingga berakhir kesempatan ibadah. Sungguh rugi orang yang berhenti qiyamullail dengan berakhirnya ramadhan. Sungguh celaka orang kembali kepda kebiasaan lama tanpa melihat aturan agama. Tidak akan kita capai derajat orang bertakwa, jika kita menjadikan ramadhan sebagai bulan ibadah musiman yang berakhir dengan datangnya hari raya.

DOA MENUJU SUKSES

At-Tirmizi meriwayatkan dari Ibnu Umar, diatara doa yang diajarkan Rasulullah kepada shahabatnya adalah:

« اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ
وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا
وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا
أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى
مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ
مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا
وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ
يَرْحَمُنَا »

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-Mu hingga kami menjauh dari maksiat Ya Allah, berilah kami nikmat taat pada-Mu yang mengantarkan kami menuju surga-Mu Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia Jadikanlah pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami kenikmatan hidup yang Engkau. berikan di dunia, dan jadikanlah sebagai pusaka yang kami wariskan bagi generasi penerus. Ya Allah, arahkanlah perlawanan kami atas orang yang menzalimi kami. Tolonglah kami dalam menghadapi orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau biarkan kami terkena musibat dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia. Janganlah Engkau biarkan kami merasa cukup dengan ilmu yang ada. Dan janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah berilah kami rasa takut pada-Mu hingga kami menjauh dari maksiat Ya Allah, Ya Allah hanya dengan takut pada-Mu kami akan dapat menghidar dari perbuatan maksiat, maka tanankanlah dalam qalbu kami rasa takut hanya pada-Mu.

Ya Allah, berilah kami nikmat taat pada-Mu yang mengantarkan kami menuju surga-Mu.

Ya Allah, telah Engkau sediakan surga bagi orang-orang yang Engkau cintai, berilah kami nikmat ibadah dan taat yang mengantarkan kami mendapat cinta-Mu hingga Engkau masukan kami dengan rahmatMu kedalam surga. Tanamkanlah dalam qalbu kami keyakinan yang meringankan kami menghadapi ujian dunia.

Ya Allah kami menyadari bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari ujian, baik ujian yang pahit ataupun yang manis.

Ya Allah tanamkanlah kedalam qalbu kami keyakinan bahwa Engkau senantiasa melihat semua perilaku kami dan Engkau Maha adil dalam menghitung semua amal perbuatan kami.

Ya Allah, jadikanlah semua ujian yang kami hadapi jalan menuju kemuliaan disisi-Mu. Jadikanlah pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami kenikmatan hidup yang Engkau berikan di dunia, dan jadikanlah sebagai pusaka yang kami wariskan bagi generasi penerus.

Ya Allah bimbinglah kami dalam menggunakan pendengaran, penglihatan dan kekuatan untuk beralam shaleh. Janganlah Engkau biarkan kami menyalahgunakan nikmat yang besar ini.

Ya Allah berilah kami kenikamatan menghayati firmanMu, menjiwai ayat-ayat-Mu dan menggunakan semua kekuatan untuk berjuang membela agama-Mu dengan istiqamah hingga ajal menjemput kami.

Ya Allah jadikanlah perjuangan ini sebagai warisan yang bermanfaat bagi generasi penerus kami. Dan bimbinglah mereka untuk melanjutkan perjuangan ini hingga Engkau kumpulkan kami dengan mereka dibawah naungan dan rahmat-Mu pada hari kiamat nanti.

Ya Allah, arahkanlah perlawanan kami atas orang yang menzalimi kami Ya Allah, Engkau-lah Penguasa semua manusia. Berilah kami bimbingan dalam menghadapi orang yang zalim. Dan janganlah Engkau biarkan kami salah sasaran dalam melakukan perlawanan.

Tolonglah kami dalam menghadapi orang yang memusuhi kami Ya Allah Engkau Maha Mengetahui siapa yang membenci agama-Mu, merusak ajaran-Mu dan yang memusuhi hamba-hamba-Mu. Berilah kami kekuatan iman dan semangat berjuang menghadapi mereka. Dan turunkanlah tentara-Mu untuk menghancurkan mereka. Janganlah Engkau biarkan kami terkena musibat dalam urusan agama kami.

Ya Allah jika kami dihadapkan kepada musibat, janganlah Engkau biarkan musibat itu menimpa agama kami. Ya Allah bimbinglah kami dengan musibat itu menuju kemuliaan di sisiMu.

Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan urusan dunia Ya Allah Engkau-lah Penguasa alam semesta dan Engkau-lah Pemilik kekayaan dunia. Janganlah Engkau biarkan kami menjadi hamba dunia yang sibuk menjadi pelayannya. Janganlah Engkau biarkan kami sibuk dengan kedudukan sesaat dan tertipu dengan kenikmatan sementara. Janganlah Engkau biarkan kami terhina karena dikuasai dunia.

Ya Allah, bimbinglah kami dalam berjuang menggunakan kedudukan dan mengorbankah harta kekayaan untuk melayani umat menuju kebahagiaan akhirat. Janganlah Engkau biarkan kami merasa cukup dengan ilmu yang ada.

Ya Allah berilah kami tambahan ilmu agar semakin jelas di hadapan kami perbedaan antara hak dan batil. Berillah kami ilmu yang bermanfaat bagi masa depan bangsa ini. Janganlah Engkau biarkan kami keliru dalam menentukan pilihan dan langkah yang mesti kami lalui. Dan janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah janganlah Engkau serahkan amanat kekuasaan selain kepada ahli ruku’ dan sujud yang membela agama-Mu. Janganlah Engkau biarkan kami dikuasai oleh orang yang suka maksiat di hadapan-Mu. Janganlah Engkau biarkan kekuasaan dipegang oleh orang yang tidak mengenal kitab suci-Mu. Janganlah Engkau serahkan kekuasaan negeri ini selain kepada hamba-hamba yang Engkau ridhoi.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصل اللهم
على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن اتبعه إلى يوم الدين والحمد لله
رب العالمين
أقول قولى هذا وأستغفر الله لي ولكم

sumber : http://www.eramuslim.com/ramadhan/hikmah-ramadhan/khutbah-idul-fitri-1431-h-ramadhan-telah-pergi.htm

Mengapa Islam Turun di Jaziarah Arab? [Ustadz Ahmad]

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para penulis sirah nabawiyah seperti Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthi danbeberapa ulama lainnya memang pernah menuliskan apa yang anda tanyakan. Yaitu tentang beberapa rahasia dan hikmah di balik pemilihan Allah SWT atas jazirah arabia sebagai bumi pertama yang mendapatkan risalah Islam.

Rupanya turunnya Islam pertama di negeri arab bukan sekedar kebetulan. Juga bukan semata karena di sana ada tokoh paling jahat semacam Abu Jahal cs. Namun ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Kita di zaman sekarang ini akan menyaksikan betapa rapi rencana besar dan strategi Allah jangka panjang, sehingga pilihan untuk menurunkan risalah terakhir-Nya memang negeri Arabia.

Meski tandus, tidak ada pohon dan air, namun negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:

I. Di Jazirah Arab Ada Rumah Ibadah Pertama

Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.

Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arabia. Yaitu dengan dibangunnya rumah Allah (Baitullah) yang pertama kali di tengah gurun pasir jazirah arabia.

Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling ka”bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari kiamat menjelang.

Ketika Adam as diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal dengan India. Sedangkan isterinya diturunkan di dekat ka”bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya ka”bah.

Maka jadilah wilayah sekitar ka”bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan ka”bah sebagai tempat pusat peribadatan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)

II. Jazirah Arabia Adalah Posisi Strategis

Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arabia terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.

Sejak masa Rasulullah SAW, posisi jazirah arabia adalh posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah dari pusat peradaban dunia.

Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat yaitu Romawi dan Yunani. Dan Dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri timur seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan dipakai sebagai mata uang yang berlaku.

Ini menunjukkan bahwa jazirah arab punya akses yang mudah baik ke barat maupun ke timur. Bahkan ke utara maupun ke selatan, yaitu Syam di utara dan Yaman di Selatan.

Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, sangat terbantu dengan posisi jazirah arabia yang memang sangat strategis dan tepat berada di pertemuan semua peradaban.

Kita tidak bisa membayangkan bila Islam diturunkan di wilayah kutub utara yang dingin dan jauh dari mana-mana. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia.

Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di kepulauan Irian yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.

Sebaliknya, jazirah arabia itu memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat. Sehingga para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah.

Sehingga di abad pertama hijriyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbegai pusat peradaban dunia. Bahkan munurut HAMKA, di abad itu Islam sudah sampai ke negeri nusantara ini. Dan bahkan salahseorang shahabat yaitu Yazid bin Mu”awiyah ikut dalam rombongan para dai itu ke negeri ini dengan menyamar.

III. Kesucian Bangsa Arab

Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang arab di masa Rasulullah SAW itu jahiliyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk menjelaskan makna jahiliyah.

Padahal yang dimaksud dengan jahiliyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyah dalam pandangan Quran adalah lawan dari Islam. Maka hukum jahiliyah adalah lawan dari hukum Islam. Kosmetik jahiliyah adalah lawan dari kosmetik Islam. Semangat jahiliyah adalah lawan dari semangat Islam.

Bangsa arab memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya di masa yang sama. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas maknawiyah bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, maka bangsa arab hidup dengan kemurnian niloai kemanusiaan yang masih asli.

Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati dan keadilan adalah ciri mendasar dari watak bangsa yang hidup dekat dengan alam. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.

Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu yang meski belum dikenal merupakan bagian dari harga diri seorang arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang bagi bangsa arab menolak permintaan orang yang kesusahan. Mereka amat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar.

Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. 360 berhala yang ada di sekeliling ka”bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban barat yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang diimpor oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya romawi, yunani dan yaman.

Termasuk juga minum khamar yang memabukkan, adalah budaya yang mereka import dari luar peradaban mereka.

Namun sifat jujur, amanah, terbuka dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama.

Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan. Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, maka sinar itu membentuk proyeksi iman yang amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil yang dadanya sesat dengan noda jahiliyah, tak satu pun ayat turun kecuali ditolaknya. Dan tak satu pun nabi yang datang kecuali didustainya.

Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Maka ending sirah nabawiyah adalah ending yang paling indah dibandingkan dengan nabi lainnya. Sebab pemandangannya adalah sebuah lembah di tanah Arafah di mana ratusan ribu bangsa arab berkumpul melakukan ibadah haji dan mendengarkan khutbah seorang nabi terakhir. Sejarah rasulullah berakhir dengan masuk Islamnya semua bangsa arab. Bandingkan dengan sejarah kristen yang berakhir dengan terbunuhnya (diangkat) sang nabi. Atau yahudi yang berakhir dengan pengingkaran atas ajaran nabinya.

Hanya bangsa yang hatinya masih bersih saja yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.

IV. Faktor Bahasa

Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya.

Namun ketika semua nabi telah terutus untuk semua elemen umat manusia, maka Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi terus hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.

Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa eksis yang terbatas. Lewat dari masanya, maka bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.

Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata oleh pakar bahasa adalah bahasa arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada dimuka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.

Dan itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa arab. Ternyata bahasa arab itu adalah bahasa tertua di dunia. Sejak zaman nabi Ibrahim as bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.

Logikanya sederhana, karena ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bahasa ahli surga adalah bahasa arab. Dan asal-usul manusia juga dari surga, yaitu nabi Adam dan isterinya Hawwa yang keduanya pernah tinggal di surga. Wajar bila keduanya berbicara dengan bahasa ahli surga. Ketika keduanya turun ke bumi, maka bahasa kedua ”alien” itu adalah bahasa arab, sebagai bahasa tempat asal mereka. Dan ketika mereka berdua beranak pinak, sangat besar kemungkinannya mereka mengajarkan bahasa surga itu kepada nenek moyang manusia, yaitu bahasa arab.

Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa arab memiliki jumlah kosa kata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing ada sekitar 100 kata.

Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaoikan dan Al-Quran diturunkan.

V. Arab Adalah Negeri Tanpa Kemajuan Material Sebelumnya

Seandainya sebelum turunnya Muhammad SAW bangsa arab sudah maju dari sisi peradaban materialis, maka bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral saja. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spritualis yang hanya mengacu kepada sisi ruhaniyah seseorang.

Namun ketika Islam diturunkan di jazirah arabia yang tidak punya peradaban materialis lalu tiba-tiba berhasil membangun peradana materialis itu di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah makhluq sepotong-sepotong. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multi dimensi. Islam mengandung masalah materi dan rohani.

Ketika sisi aqidah dan fikrah bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materialis yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban berhasil dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.

Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, maka tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Akhlak Mulia Rasulullah SAW : Dakwah Rasulullah SAW ke Tha’if

Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidu mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya. Selebihnya selalu berusaha menggangu dan menghalangi beliau dan para pengikutnya dengan segala upaya yang ada. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Pada tahun kesepuluh setelah masa kenabian, Abu Thalin wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa menganggu dan menentang Nabi SAW.

Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Terletak 80 km dari kota Mekkah. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah SAW pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapat tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setiba di sana, Rasulullah SAW mengujungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Rasulullah SAW – pun mereka tidak mau. Rasulullah SAW diperlakukan secara kasar. Sikap kasar mereka sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang apabila Rasulullah dan pengikutnya tinggal di Tha’if. Semulah Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiring tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.

Salah seorang di antara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi utusan-Nya?” Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi utusan-Nya?”
Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak akan berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara kepadamu.”

Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian kasar itu, Rasulullah SAW yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkan mudah putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah SAW mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kami dari kampung ini! Dan pergilah kemana yang kamu suka!”

Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan tenang, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW menjumpai tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudia beliau berdoa :

“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan masalahku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

Demikian sedihnya dia yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi SAW, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril AS untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril AS member salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang terjadi kepadamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril AS memperlihatkan pada malaikat itu kepada Rasulullah SAW.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah SAW, dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Semoga kita sebagai umat beliau, selalu diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berusaha mencontoh beliau dalam tingkah laku dan sifat-sifat beliau dengan segala daya upaya yang kita miliki. Amin.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa alla alihi wa shahbihi wa salam

Diantara Maghrib dan Isya’

Dari Kitab “Al Ghunyah li thalibi Thariq al haqq ‘Azza wa Jalla” karya Syeikh Abdul Qodir Jaelani.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa sholat enam rakaat setelah Maghrib tanpa menyelinginya dengan pembicaraan apa pun, maka pahala keenam rakaat tersebut sebanding dengan ibadah dua belas tahun. “Dalam riwayat Zayd bin Hubab menggunakan redaksi,” tanpa menyelinginya dengan pembicaraan yang buruk di antara keenam rakaat tersebut. ”

Sholat tersebut dikenal dengan sholat sunnah awwabin.

Dikatakan bahwa pada kedua rakaat pertama disunnahkan untuk membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas dengan bacaan yang percepat agar kedua rakaat tersebut dapat diangkat bersama denagn sholat Maghrib. Kemudian empat rakaat sisanya dikerjakan dengan bacaan yang panjang sesuai dengan yang diinginkannya, itu pun jika mampu melakukannya.

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan sholat sunnah empat rakaat setelah sholat Maghrib, sebelum ia sempat berbincang-bincang dengan orang lain, maka sholatnya akan diangkat ke tempat yang sangat tinggi (illiyin). Orang yang melakukannya seperti orang yang mendapatkan lailatul qodar di Mesjid al-Aqsha, dan ini lebih baik dari sholat setengah malam. ”

Abdurrahman bin Aswad berkata, “Aku tidak melewatkan satu saat pun untuk mengunjungi Abdullah Ibnu Mas’ud ra, melainkan aku merasa tengah sholat sunnah antara Maghrib dan Isya.” Ia berkata, ‘Karena waktu ini (antara maghrib dan isya) adalah waktu yang melalaikan . ”

Ada yang berpendapat bahwa pada waktu inilah (antara maghrib dan isya ‘), pengambilan ayat, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (QS, as-Sajdah (32), 16)

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang setelah sholat Maghrib membaca surat as-Sajdah dan al-Mulk, maka pada hari kiamat nanti ia akan datang dengan wajah seperti bulan purnama dikarenakan ia telah memenuhi hak-hak dari malam itu.”

Keempat rakaat yang disebutkan dalam hadist di atas, bisa jadi terpisah dari dua rakaat sunnah setelah maghrib, dan bisa jadi pula masuk dalam jaringan shalat sunnah tersebut.

Tentang sholat sunnah dua rakaat sebelum magrib, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang sholat sunnah dua rakaat sebelum maghrib, dan ia menjawab, “Saya pribadi tidak mengerjakannya, namun jika ada yang mengerjakannya, maka itu tida ada larangan.

Ibnu Umar ra. pernah ditanya tentang sholat sunnah sebelum Maghrib, dia ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di zaman Nabi SAW mengerjakan sholat sunnah dua rakaat sebelum Maghrib.” Namun Ibnu Umar ra tidak melarangnya.

Anas bin Malik ra berkata, “Pada masa Nabi SAW kami mengerjakan sholat sunnah dua rakaat setelah matahari terbenam sebelum sholat Maghrib.” Saat ia ditanyai, “Apakah Nabi SAW juga mengerjakannya?” Ia menjawab, “Nabi SAW melihat kami mengerjakannya, namun ia tidak menyuruh maupun melarangnya. “