Skip to content

Ibnu Umar r.a. Menjawab Mereka yang Mengingkari Takdir Allah SWT

May 19, 2010

Ibnu Umar r.a. Menjawab Mereka yang Mengingkari Takdir Allah (Jangan Lagi Berkata “Semua Tindakan Berangkat dari Perbuatan Manusia itu Sendiri”)

Bismillahirrohmanirrahim.

Sebelum membahas mengenai topik di atas, maka sudah sepatutnya kita mengetahui lebih dalam siapakah Ibnu Umar r.a.

I. Tentang Ibnu Umar r.a.

Beliau bernama Abdullah bin Umar bin Khattab atau sering disebut Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar saja (lahir 612 – wafat 693/696 atau 72/73 H) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadits yang terkenal. Ia adalah anak dari Umar bin Khattab r.a, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin yang kedua.

Ibnu Umar r.a masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya. Pada usia 13 tahun ia ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar, namun Rasulullah menolaknya. Perang pertama yang diikutinya adalah Perang Khandaq. Ia ikut berperang bersama Ja’far bin Abu Thalib dalam Perang Mu’tah, dan turut pula dalam pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Setelah Nabi Muhammad meninggal, ia ikut dalam Perang Yarmuk dan dalam penaklukan Mesir serta daerah lainnya di Afrika.

Khalifah Utsman bin Affan r.a. pernah menawari Ibnu Umar r.a.untuk menjabat sebagai hakim, tapi ia tidak mau menerimanya. Setelah Utsman terbunuh, sebagian kaum muslimin pernah berupaya membai’atnya menjadi khalifah, tapi ia juga menolaknya. Ia tidak ikut campur dalam pertentangan antara Ali bin Abi Thalib r.a. dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia cenderung menjauhi dunia politik, meskipun ia sempat terlibat konflik dengan Abdullah bin Zubair yang pada saat itu telah menjadi penguasa Makkah.

Ibnu Umar r.a adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah r.a, yaitu sebanyak 2.630 hadits, karena ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi.

Bahkan Aisyah r.a. istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :”Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar”. Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Diantara para Tabi’in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi’.

Kesalehan Ibnu Umar r.a sering mendapatkan pujian dari kalangan sahabat Nabi dan kaum muslimin lainnya. Jabir bin Abdullah berkata: ” Tidak ada di antara kami disenangi oleh dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah.” Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: “Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup di masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia”.

Ibnu Umar r.a adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, tetapi juga banyak berderma. Ia hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya di masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah

II. Hujjah Ibnu Umar r.a.

Ma’bad al-Jahni adalah orang yang pertama kali mengkritik masalah takdir di Basrah. Maka sebagian dari mereka (warga Basrah), di antaranya Yahya bin Amru dan Hamid bin Abdurrahman, pergi menghadap sahabat ‘Abdullah bin Umar. Keduanya berkata kepada sang sahabat : “Sesungguhnya telah muncul manusia manusia sebelum kami, mereka membaca al-Quran dan berilmu. Mereka mengklaim bahwa tidak ada takdir dan perkara yang muncul di dunia ini termasuk semua tindakan berangkat dari perbuatan manusia itu sendiri.”

Ibnu Umar ra. berkata : “Apabila kalian berjumpa mereka maka katakan kepadanya, bahwa saya bebas dari tuduhannya dan mereka juga bebas dari tuduhanku. Adapun yang disumpahkan oleh Ibnu Umar adalah kalau sekiranya salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfakkannya pastilah Allah tidak akan menerimanya, hingga ia beriman kepada baik dan buruknya takdir.”

Kemudia ia berkata: “Ayahku, Umar bin Khaththab pernah bercerita kepadaku: ‘Ketika kami bersama Rasulullah, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih bajunya dan rambutnya sangat hitam, ia tidak tampak sebagai seorang musafir. Ia datang kepada Nabi SAW lalu duduk bersila dan meletakkan tangannya di atas kedua pahanya seraya berkata : ‘Muhammad, beritahukanlah kepada saya tentang Islam! Nabi SAW bersabda: ‘Islam adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji apabila kamu mampu.’ Laki-laki itu berkata : ‘Kamu benar.’ Dan kami kaget, ia bertanya tetapi ia pula yang membenarkannya. Laki-laki itu berkata lagu : ‘Beritahukanlah kepada kamu tentang iman?’ Nabi SAW bersabda : ‘Iman adalah beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari Kiamat dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.” Laki-laki itu berkata: ‘Kamu benar.’ Ia berkata lagi : ‘Beritahukan kepada saya tentang ihsan?’ Nabi SAW bersabda : ‘Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Laki-laki itu berkata: ‘Kamu benar.’ ‘Beritahukan kepada saya tentang hari kiamat?’ Nabi SAW bersabda : ‘Yang bertanya lebih tahu dari pada yang ditanya.’ Laki-laki itu berkata : ‘Beritahukan kepada saya tanda-tandanya?’ Nabi SAW bersabda : ‘Hamba sahaya (budak) yang melahirkan majikannya, kemudia kamu melihat adanya wanita-wanita yang telanjang, dan adanya mereka yang saling berlomba-lomba membangun gedung-gedung yang tinggi.’ Umar berkata : ‘Orang tersebut kemudia pergi, kemudian sejenak Rasulullah menunggu dan bersabda : “Wahai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya itu?” Umar berkata : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia adalah Jibril a.s. yang datang kepadamu untuk mengajarkan masalah agamamu.” (H.R. Muslim).

Janganlah lagi kita pernah mengatakan perkataan apa yang pernah diucapkan oleh Ma’bad al-Jahni yang mengatakan bahwa tidak ada takdir dan perkara yang muncul di dunia ini termasuk semua tindakan berangkat dari perbuatan manusia itu sendiri. Karena hal itu sama dengan kita melapas sebagian iman dari hati kita. “… Sekiranya salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud, kemudian diinfakkannya pastilah Allah tidak akan menerimanya, hingga ia beriman kepada baik dan buruknya takdir.” Itulah apa yang telah menjadi hujjah Ibnu Umar r.a. bagai mereka yang mengingkari takdir Allah SWT. Semoga Allah SWT melindungi kita dari perkataan itu.

Fakta mengenai takdir dikisahkan juga oleh Ayahanda Ibnu Umar r.a., yaitu Umar bin Khattab r.a. Ketika di negeri Syam terjadi wabah, Khalifah pada saat itu, Umar bin Khattab r.a., membatalkan rencana kunjungan kesana. Mendengar berita ini, seseorang sahabatnya bertanya, “Apakah Anda lari menghindar dari takdir Allah?”. Umar pun menjawab, “Aku lari/menghindar dari takdir Allah kepada takdir-Nya yang lain.” Demikian juga ketika Ali bin Abi Thalib r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang disekelilingnya bertanya dan Ali bin Abi Thalib r.a. sama dengan jawaban Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar Ra’d (13) : 11).

Allah SWT berfirman : “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al Mulk (67): 2)

Allah SWT juga berfirman : “.. barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir..”.. (Al Kahfi (18) :29).

Karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yang diridhoi oleh Allah SWT.Maka setiap hasil yang kita dapatkan dari ikhtiar, doa dan tawakal kita kepada Allah SWT selalu di dalam ruang takdir Allah SWT karena sebagaimana firman Allah : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin.” (Al Hadid (57) : 3).

Maka oleh karen itu Allah SWT tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang. Pengetahuan Allah SWT akan masa lalu, sekarang dan masa depan terjadi hanya dalam satu waktu saja.

Dalam satu riwayat Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang dari kamu ditimpa musibah, hendaklah berdoa; ‘Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita kembali kepada-Nya. ‘Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan musibahku, maka berilah aku pahala dan berilah ganti yang lebih baik.”

Wallahu a’lam.

From → Renungan Hati

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: