Skip to content

Selalu ada Kebaikan di Dalam Segala Hal

May 19, 2010

Bismillahirrahmanirrohim.

Jika kita memikirkan kehidupan kita, kita akan menyadari bahwa semua ingatan kita dalam beberapa dekade yang lalu hanya menjadi perbincangan beberapa menit saja. Apa yang kita kejar, yang kita pikir sangat penting hanya menjadi kenangan. Di dalam pandangan Allah SWT setiap kata atau perbuatan ataupun pikiran kita telah diketahui-Nya. Oleh karena itu tidak terlewat satu detikpun kehidupan ini tanpa diketahui-Nya.

Sejak pertama kali seseorang membuka matanya di dunia, Allahlah yang menetapkan setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya. Semua Allah SWT ciptakan dalam rangka memenuhi rencana-Nya dan tujuan Ilahiah.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al Quran :
“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al Qomar : 49).

Oleh karena itu merupakan kewajiban kita untuk meyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan maksud-maksud Ilahiah yang telah ditetapkan. Sebagai muslim sejati, kita harus menyadari bahwa setiap hal atau peristiwa yang kita alami dalam hidup ini, bahwa Allah yang telah menetapkan, bahwa Allahlah yang menyebabkan terjadinya setiap peristiwa dengan tujuan ilmiah, yaitu untuk kebaikan kita.

Di dalam Al Quran telah digambarkan bahwa :
“Sesungguhnya, Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al Insaan : 3).

Maka, dari firman tersebut diketahui bahwa kehendak manusia dan kehendak Allah adalah mencapai hasil akhir yang mulia, yakni kehidupan abadi di surga.

Banyak orang yang mengatakan bahwa “pasti ada hikmah di balik kejadian ini”, namun mereka sering gagal memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan tersebut. Maka kualitas moral yang timbul dari keyakinan yang tulus pada Allah adalah hal penting. Mukmin sejati harus selalu mengetahui bahwa setiap peristiwa yang menyenangkan atau tidak yang dialaminya pada akan bermanfaat pada akhirnya. Jika suatu peristiwa disebut sebagai “kemalangan”, ini hanya merupakan suatu yang dapat diambil pejaran darinya. Bahkan jika peristiwa “kemalangan” itu terjadi berkali-kali, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa itu adalah untuk kebaikan dan menjadi hak Allah yang kekal.

Hal ini diterangkan Rasulullah SAW :
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim).

Namun seringkali kita tidak cukup sabar dan terburu-buru untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa kita. Dan sebaliknya menjadi agresif dalam mengejar sesuatu padahal hal tersebut bertentangan dengan kebaikan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita.

Allah SWT berfirman:
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia yang bersifat tergesa-gesa.” (Al Israa’ : 11).

Salah satu hal yang penting yang harus kita sadari agar kita mampu melihat kebaikan di dalam segala hal bahwa kita harus menyadari bahwa Allah SWT telah mentakdirkan semua hal dalam setiap detailnya. Takdir merupakan rencana tanpa cacat yang dibuat oleh Allah SWT untuk mempersiapkan seseorang mendapatkan kenikmatan surga. Takdir penuh keberkahan dan maksud Illahiah.

Kita harus mampu memahami bahwa setiap makhluk hidup ataupun tidak diciptakan dalam kepatuhannya pada takdir Allah SWT. Takdir adalah pengetahuan sempurna Allah SWT atas semua peristiwa di masa lalu, masa depan, laksana dalam satu waktu. Di dalam pandangan Allah SWT bahwa peristiwa awal pembentukan alam semesta hingga hari akhir telah terjadi pada satu waktu. Laksana ketika kita melihat sebuah peta Indonesia, kita bisa mengetahui pulau Jawa, pulau Bali, pulau Kalimantan dan pulau lainnya dengan laut-lautnya secara bersamaan, namun seseorang yang tinggal di salah satu pulau tersebut tidak mampu melihat pulau lain pada saat yang sama.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT :
“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang yang ada di daratan dan dilautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Al An’am : 59)

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya , yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al Hadiid : 22).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : “Pernah Adam dan Musa saling berdebat. Kata Musa : Wahai Adam, kamu adalah nenek moyang kami, kamu telah mengecewakan harapan kami dan mengeluarkan kami dari surga. Adam menjawab : Kamu Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak berbicara dengan kalam-Nya dan Allah telah menuliskan untukmu dengan tangan-Nya. Apakah kamu akan menyalahkan aku karena suatu perkara yang telah Allah tentukan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?” Nabi SAW bersabda : “Akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa, akhirnya Adam menang berdebat dengan Musa.” (HR Sahih Muslim)

Namun kita sebagai orang beriman tidak dapat berkata pasrah kepada takdir tanpa adanya usaha atau ikhitiar, karena itu bertentangan dengan nilai-nilai dalam Al Quran, namun yang harus kita ingat bahwa hasil atau hal apapun yang terjadi adalah mutlak milik Allah SWT.

Dikisahkan ketika di negeri Syam terjadi wabah, Khalifah pada saat itu, Umar bin Khattab, membatalkan rencana kunjungan kesana. Mendengar berita ini, seseorang sahabatnya bertanya, “Apakah Anda lari menghindar dari takdir Allah?”. Umar pun menjawab, “Aku lari/menghindar dari takdir Allah kepada takdir-Nya yang lain.”

Atau dengan kata lain bahwa setiap takdir hakekatnya adalah ujian bagi manusa, bagaimanapun keras usaha kita untuk menghindar dari “kemalangan” atau menghindari suatu peristiwa, namun Allah SWT jualah yang menentukan takdir yang kita alami. Allah SWT berfirman :

“… Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa) dan (sebelum itu) ‘Arsy-Nya berada di atas air untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amal perbuatannya.” (Huud : 7)

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi untuk membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan apa yang telah mereka perbuat, dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan anugrah yang lebih baik.” (An-Najm 31).

Kemenangan seorang muslim adalah bagaimana dia mampu melihat kebaikan dari setiap peristiwa yang dia alami sebagai takdir dari Allah SWT, dengan sekuat tenaga untuk selalu berusaha sabar, ikhlas dan syukur atas setiap hal dan peristiwa. Takdir esok adalah hal ghoib bagi kita namun tidak bagi Allah SWT.

Allah SWT berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuautu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tdak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Jika Allah telah menujukkan kebaikan dan maksud sebuah kejadian yang merugikan atau kesulitan yang menekan dan membuat gusar, kita akan mengerti betapa tidak berartinya kekecawaan ataupun kegusaran kita. Dengan mengenali keberkahan dalam segala hal, seorang mukmin akan merasa bahagia. Kewajiban bagi kita adalah mengidentifikasi dan mencari kebaikan setiap peristiwa atau hal yang kita alami, karena dalam setiap peristiwa tersimpan maksud Allah SWT.

Orang-orang beriman sepenuhnya menyadari bahwa setiap detik kehidupannya telah diciptakan oleh Allah dan ditentukan sebelumnya dengan rencana Illahiyah. Di dunia ini, tempat kita menunggu dibukanya gerbang surga, seorang mukim akan menghadapi berbagai macam keadaan dan cobaan, dan ia memimpin dirinya untuk bertanggung jawab kepada Allah SWT dan berusaha keras untuk mendapat keridhaan Allah dan surga-Nya.

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombongan-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surge itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesehjateraan (dilimpahkan) atasmu, Berbahagialah kami!. Maka masukilah surga ini, sedang kamu ekal di dalamnya.’ Dan mereka mengucapkan , ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (member) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.’ Maka surga itulah sebaik-baik balsan bagi orang yang beramal. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-maikat di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Az Zumar : 73-75).

Wallahu a’lam

From → Renungan Hati

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: