Skip to content

Terpilihnya Ustman bin Affan r.a. di Antara Yang Terbaik

May 19, 2010

1. Enam Sahabat Sebagai Calon Khalifah

Udara Kota Madinah tersaput awan kelabu, suasan bathin kaum muslimin sedang terguncang karena peristiwa berdarah yang menimpa pemimpin mereka, Sayidinna Umar bin Khattab r.a.

Usaha pembunuhan terhadap pemimpun mereka, kembali menorah luka lama. Luka tusukan pedang Abu Luqluq (Fairuz atau Abu Lu’lu’ah) membuat umar semakin lemah. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M, ketika Sayyidina Umar bin Khattab r.a. sedang memimpin sholat Subuh.

Andai ajal segera menjemputnya, siapa yang akan meneruskan kepemimpinannya.

Di tengah kondisi yang lemah, Sayyidina Umar r.a mengumpulkan enam sahabat terkemuka untk memilih penggantinya. Keenam orang tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Mereka semua berasal dari suku Quraisy. Tapi bukan alas an kesukuan yang menjadi alasan utama Sayyidina Umar r.a., melainkan karena hubungan dan kedudukan mereka bersama Rasulullah SAW.

Dalam hal ini wajar bila umar memenitingkan kualitas pribadi mereka di samping faktor keagamaan, seperti keimanan, kezuhudan, keteladanan dan kearifan. Mereka inilah yang kemudian disebut Majelis Syura.

Kepada mereka, Sayyidina Umar r.a. berpesan agar memilih khalifah baru di antar mereka dan waktunya dibatasi hanya tiga hari, tidak boleh lebih. Sebagai penasehat, Umar memilih Abdullah bin Umar. Dia mengawasi jalannya pemilihan di antara keenam sahabat dan tidak boleh ikut mencalonkan diri.

Ketika pertemuan pertama dilangsungkan, Abdurrahman bin Auf langsung menyatakan, “Aku menarik diri dari pencalonan.”

Utsman bin Affan dan Zubair bin Awwam menyetujuinya. Thalhah bin Ubaidillah, tak bisa dimintakan pendapatnya, karena ia berada di Makkah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib tidak segera memberikan reaksi. Ia baru menyakan pendapatnya setelah didesak Abdurrahman.

“Abu Hasan, bagaiman pendapatmu?” Tanya Abdurrahman bin Auf.

Ali menjawab, “Berjanjilah bahwa engkau akan mendahulukan kebenaran, tidak memperturutkan hawa nafsu, tidak mengutamakan kerabat, dan tidak akan mengabaikan bimbingan sebagai umat.”

Abdurrahman berujar, “Berjanjilah bahwa kalian akan mendukungku dalam mengadakan perubahan dan menyetujui orang yang nanti aku pilihkan. Aku berjanji kepada Allah SWT tidak akan mengutamakan kerabat dan tidak akan mengabaikan bimbingan kepada kaum muslimin.”

Sepertinya Abdurrahman sudah punya firasat bahwa Utsman r.a dan Ali r.a adalah calon utama. Sebelumnya, ia sudah berbicara dengan semua anggota Majelis Syura dan dimintanya kepada mereka untuk memberi kuasa kepada tiga orang diantara yang enam orang itu untuk jadi pemimpin. Zubair memberikan haknya kepada Ali r.a, Sa’ad memberikan kueasa kepada Abdurrahman, dan suara Thalhah diberikan kepada Utsman r.a.

Tapi karena Abdurrahman sudah mengundurkan diri, pencalonan itu dibatasi hanya kepada Ali r.a dan Utsman r.a. Hal memilih salah seorang di antara keduanya berada di tangan Abdurrahman.

Kepada keduanya, Abdurrahman mengajak bicara empat mata.

Kepada Ali r.a., Abdurrahman berkata, “Engkau akan berkata bahwa dalam hal ini engkau lebih berhak dimasukkan dalam pencalonan dariapda mereka karena kekerabatanmu, karena engkau sudah dulum dalam Islam, serta jasamu dalam agama. Memang. Namun, bagaimana seandainya engkau terlewatkan dan dalam hal ini tidak terpilih, siapa di antara mereka yang menurutmu lebih berhak?”

Ali r.a. menjawab dengan mentap. “Ustman bin Affan!”

Kemudian Abdurrahman mengajak berbicara Utsman r.a. empat mata. “Engkau akan mengatakan ‘Aku tetua bani Abdul Manaf, menantu Rasulullah SAW yang mula-mula dalam Islam, dan sudah berjasa, mengapa akan dijauhkan, mengapak pula dalam hal ini aku akan dilewatkan? Tetapi bagaimana seandainya engkau terlewatkan juga dan tidak terpilih, siapa di antara mereka yang menurutmu yang lebih berhak?”

Dijawab dengan Utsman r.a. dengan tegas, “Ali bin Abi Thalib!”

2. Teladan Berkompetisi

Dikala itu mayoritas kaum muslimin sedang berkumpul di Madinah dari berbagai kawasan Kedaulatan Islam seusai mereka melaksanakan ibadah haji dan tertahan oleh peristiwa terbunuhnya Umar, menunggu apa yang akan disampaikan oleh Majelis Syura. Oleh karena itu Abdurrahman berusaha menemui sahabat-sahabat Rasulullah SAW serta pemuka-pemuka masyarakat yang baru tiba di Madinahm seteleh menunaikan ibadah haji. Mereka semua ditantya, baik bersama-sama maupun satu per satu, yang berkelompok atau yang terpencar, dengan diam-diam dan dengan cara terbuka sampai dapat menghasilkan dua orang terbaik.

Di luar, Bani Hasyim dan Bani Umayyah berkampanye untuk pihaknya masing-masing. Bani Hasyim untuk Ali, sedangkan Bani Umayyah untuk Utsman. Kala itu Utsman r.a sudah berumur 76 tahun, dan Ali r.a. berumur 60 tahun. Faktor usia dan penghargaan mereka pada masa lalunya membuat mereka lebih cenderung kepada Utsman r.a. dan mau memilihnya. Suara mayoritas yang menyerupai konsesus memilih Utsman r.a. Namun, Abdurrahman bin Auf belum berani mengambil keputusan.

Pada malam terakhir pada hari pemilihan, Abdurrahman memanggil Ali r.a. dan Utsman r.a. “Aku sudah menanyai orang banyak, tetapi aku tidak melihat ada orang yang membedakan kalian berdua.” Kemudian dia meminta janji masing-masing, “Yang terpilih agar berlaku adil, dan yang tidak terpilih supaya tetap patuh dan taat.”

Ketika adzan shubuh berkumandang, Abdurrahman mengajak Ali r.a. dan Utsman r.a. untuk sholat di masjid. Ketika itu mesjid sudah penuh sesak. Dia naik ke mimbar dan berdoa panjang sekali. Setelah itu baruh dia berkata, “Saudara-saudara, orang-orang dari perbatasan menginginkan, sebelum mereka pulang ke daerah masing-masing, sudah tahu siapa pemimpin mereka.”

“Kami lihat, engkaulah yang pantas untuk itu.” Said bin Zaid menyela.

“Kalian sebutkan nama yang lain,”  kata Abdurrahman bin Auf.

Ammar bin Yasir dan Miqdah bin Amr menyebutkan nama Ali r.a. Abdullah bin Abi Sarh dan Abdullah bin Abi Rabi’ah menyebutkan nama Utsman. Perbedaan pendapat antara kedua golongan itu berlanjut dengan saling mencerca antara Ammar bin Yasir dan Abdullah bin Abi Sarh.

Khawatir perselisihan itu akan berlanjut, Sa’ad bin Abi Waqqas berteriak “Abdurrahman, coba atasi ini sebelum orang banyak terpancing dalam keributan!”

Abdurrahman menjawab, “Sudah aku pertimbangkan dan aku musyawarahkan. Janganlah kalian menjerumuskan diri dari perbuatan sia-sia.”

Dari tempat duduknya di mimbar, Abdurrahman menampilkan wajah kesunggugan. Dia sudah bertekad agar Utsman r.a. yang menjadi khalifah, dan akan mengajak orang untuk membai’atnya. Tetapi dia masih ragu terhadap sambutan massa, apak mereka masih terpecah.

Kalau itu yang terjadi dan mereka terpancing, akibatnya adalah bencana besar. Kota Madinah akan menjadi ajang kerusuhan dengan bahaya yang lebih besar.

Oleh karena itu, Abdurrahman memanggil Ali r.a. dan memegang tanggannya seraya berkata, “Bersediakah engkau aku bai’at untuk tetap berpegang pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah serta teladan kedua orang penggantinya?”

Ali r.a. menjawab, “Aku berharap dapat berbuat dan bekerja sesuai dengan apa yang aku ketahui dan menurut kemampuannku.”

Tangan Ali r.a. dilepaskan, lalu dia memanggil Utsman r.a. dan memegang tangannya seraya berkata, “Bersediakah engkau aku bai’at untuk tetap berpegang pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah serta teladan kedua orang penggantinya?”

Utsman r.a. menjawab, “Ya, demi Allah.”

Abdurrahman mengangkat mukanya, dan sambil memegang tangan Utsman r.a. dia berkata tiga kali, “Dengarkanlah dan saksikanlah. Aku sudah melepaskan beban yang dipikulkan di bahuku dan aku letakkan di bahu Utsman.”

Setelah itu dia membai’at Utsman r.a. menjadi pemimpin, menggantikan Umar r.a. Orang-orang di dalam masjid pun beramai-ramai membai’at Utsman r.a.

Sebuah teladan penggantian kepemimpinan telah tercatat. Yang kalah dengan penuh takzim ikut mendukung yang terpilih dan mengucapkan janji kesetiaan. Semoga jadi tauladan bagi kita semua.

From → Mutiara Kisah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: