Skip to content

Fadhilah Bersedekah

May 20, 2010

Seseorang tabi’in, Asy-Syibli, mengisahkan, “suatu hari aku keluar dari rumahku menuju suatu padang pasir. Saat aku tiba di suatujalan, aku melihat seorang pemuda yang usianya masih sangat muda, tubuhnya kurus, rambutnya kusut , tubuhnya dekil dan pakainnya lusuh, Aku lihat ia duduk di dekat sebuah perkuburan. Sesekali ia memandang ke atas dan sesekali ke bawah, sedangkan kedua bibirnya bergerak dan kedua matanya meneteskan air mata. Aku lihat ia sedang tenggelam dalam doanya, dzikirnya, dan istighfarnya.

Melihat keadaan pemuda tersebut, hatiku tertarik ingin menyapanya. Maka aku menuju ketempatnya.

Ketika melihat kedatanganku, ia berdiri dan melarikan diri secepatnya dariku, sehingga hatiku semakin ingin mengenalnya. Aku pun mengejarnya, tetapi aku tak dapat menghentikannya.

Aku katakan padanya, ‘Wahai kekasih Allah, berhentilah sejenak untukku.’

‘Demi Allah, aku tidak dapat melakukannya,’ jawab pemuda itu.

Kataku, ‘Demi kemuliaan Allah, berhentilah sejenak untukku.’

Tetapi ia tetap meneruskan larinya dan berkata, ‘Aku tidak dapat melakukannya.’

Kataku, ‘Jika engkau memang benar (dengan sikapmu ini), perlihatkan kepadaku ihwal kesungguhanmu kepada Allah.’

Dalam keadaan tetap berlari dariku, ia berteriak dengan suara yang keras, “Ya Allah…’

Kemudian ia tersungkur. Dan ketika aku mendekati tubuhnya, ia telah meninggal dunia.

Aku bingung dan heran karena kesungguhannya kepada Allah. Maka aku berkata dalam diriku, ‘Beginilah cara Allah memuliakan sebagian hamba-Nya, dan tidak ada daya kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, Yang Maha tinggi dan Maha Agung.’

Kemudian aku meninggalkan jenazahnya sejenak. Aku menuju perkampungan terdekat untuk mengadakan persiapan bagi jenazah pemuda itu.

Ketika sampai kembali di tempat itu, aku tidak mendapatkan lagi jenazahnya. Aku mencari ke sana-sini, tetapi tetap saja aku tidak berhasil mendapatkannya.

Dalam keadaan seperti itu, aku berkata dalam hatiku, ‘Mengapa ada orang lain yang mendahuluiku untuk merawatnya?’

Kemudian aku mendengar suara, ‘ Wahai Syibil , sesungguhnya engkau telah cukup memperhatikan pemuda itu, dan tidak seorang pun yang menangani jenaszahnya kecuali para malaikat. Karena itu, tingkatkan ibadahmu kepada Tuhanmu dan banyaklah bersedekah. Karena pemuda ini tidak akan mencapai kedudukan seperti ini kecuali dengan sedekahnya pada suatu hari.’

Kataku, ‘Demi Allah, beri tahukan kepadaku perilah sedekahnya pada suatu hari yang dimaksud itu.’

Suara itu meneruskan, ‘Wahai Syibli, pemuda ini dulunya adalah seorang yang suka berbuat maksiat dan ia pernah berzina. Sampai pada suatu hari ia diperlihatkan Allah pada suatu mimpi yang amat menakutkan baginya.’

‘Ia bermimpu melihat seekor ulat besar yang melilit tubuh. Dai mulut ular itu terpancar api yang membakar tubuhnya hingga hangus. Maka ia terbangun dalam keadaan ketakutan. Sejak saat itu ia menyibukkan diri dalam beribadah. Sejak saat itu hingga hari ini ia telah beribadah semala dua belas tahun. Selama itu ia selalu dalam keadaan merendahkan diri dan khusyu’ kepada Allah SWT.’

Kamarin, seorang pengemis meminta makan untuk hari itu kepadanya, Maka ia melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya dan memberikannya kepada pengemis itu. Karena bergembira, pengemis itu memohonkan amupun bagi pemuda itu, sehingga Allah mengabulkan doa pengemis, karena bergembira dari sedekah pemuda itu’.”

“Mintalah doa kepada seorang pengemis yang sedang bergembira ketika mendapat sedekah darimu.” (al-Hadits).

From → Mutiara Kisah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: