Skip to content

Bagaimana Seorang Muslim Memandang Fakta dibalik Kehidupan Dunia?

May 24, 2010

Bismillahirrohmanirrohim

Allah SWT menciptakan dunia ini adalah semata-mata bertujuan untuk menguji setiap manusia, siapakah diantara mereka yang bersyukur dan yang kufur, siapa yang bersabar atau yang tidak. Hal ini dijelaskan di dalam firman Allah SWT sebagai berikut :

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al Mulk, 67: 2).

Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian. (QS. Al Anbiyaa’, 21: 16-17).

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi, 18: 7).

Dengan demikian, Allah mengharapkan manusia tetap menjadi hamba-Nya yang setia sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, dunia adalah tempat di mana mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang tidak berterima kasih kepada Allah dibedakan satu sama lain, kebaikan dan keburukan, kesempurnaan dan kekurangan bersisian dalam “kerangka” ini. Manusia diuji dalam banyak hal. Pada akhirnya, orang-orang yang beriman akan terpisahkan dari orang-orang yang tidak beriman dan mencapai surga. Dalam Al Quran hal tersebut digambarkan sebagai berikut:

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabuut, 29: 3).

Kebanyakan manusia mengira mereka dapat memperoleh kehidupan yang sempurna begitu mereka bertekad untuk itu. Lebih jauh lagi, mereka mengira bahwa kualitas hidup yang tinggi bisa dicapai dengan memiliki lebih banyak uang, standar hidup yang lebih baik, keluarga yang bahagia, dan kedudukan yang terhormat di masyarakat. Namun, orang-orang yang mencurahkan seluruh waktu mereka untuk memperoleh hal-hal se-perti itu jelas-jelas melakukan kesalahan. Pertama, mereka hanya berjuang untuk meraih ketenteraman dan kebahagiaan di dunia ini dan sama sekali melupakan Hari Akhirat. Walaupun terdapat fakta bahwa tujuan utama mereka adalah menjadi hamba Allah di dunia ini dan mensyukuri apa-apa yang dianugerahkan-Nya, mereka menghabiskan hidup untuk memenuhi berbagai hasrat mereka yang sia-sia.

Allah memberitahukan betapa remeh dan menipunya daya tarik dunia di dalam Al Quran:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagum-kan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadiid, 57: 20)

Tidak mengimani Hari Akhirat atau menganggapnya sebagai kemungkinan yang jauh adalah kesalahan pokok dari banyak orang. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan pernah kehilangan kekayaannya. Kesombongan membuat mereka menghindar dari ketundukan kepada Allah dan memalingkan wajah mereka dari janji-Nya. Akhir dari orang-orang seperti ini dikisahkan sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus, 10: 7-8)

Sejarah telah menyaksikan banyak orang semacam ini. Para raja, kaisar, dan fir’aun menganggap mereka dapat memperoleh keabadian dengan kekayaan mereka yang hebat; pemikiran bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada kekayaan dan kekuasaan mungkin tidak pernah terlintas pada mereka. Mentalitas yang cacat ini menyesatkan banyak orang, yang sangat terkesan oleh kekayaan dan kekuasaan mereka. Namun, semua orang yang tidak beriman ini menghadapi akhir yang mengerikan. Di dalam Al Quran, Allah memberitahukan tentang mereka:

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al Mu’minuun, 23: 55-56)

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah, 9: 55)

Orang-orang ini sebenarnya telah mengabaikan sebuah poin yang sangat menentukan. Semua kekayaan dan segala sesuatu yang dianggap penting adalah milik Allah. Allah, Pemilik sebenarnya segala kekayaan, memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sebagai balasannya, manusia diharapkan untuk bersyukur kepada Allah dan menjadi hamba-Nya yang taat. Hendaklah diingat bahwa tidak seorang pun dapat menghalangi pemberian Allah kepada seseorang. Sebaliknya, begitu kekayaan seseorang dicabut, tiada selain Allah yang kuasa mencegahnya. Dengan inilah, Allah menguji manusia. Namun, orang-orang yang melupakan Pencipta mereka dan hari penghisaban tidak mengindahkan ini:

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (hanya sedikit) . (QS. Ar-Ra’d, 13: 26)

Zayd ibn Arqam berkata sebagai berikut : Kami pernah bersama-sama dengan Abu Bakar: Ia meminta minuman. Lalu dibawakanlah air dan madu. Ketika ia menghampirinya, ia menangis sehingga sahabat-sahabatnya pun ikut menangis. Mereka berhenti menangis, tetapi Abu Bakar terus saja menangis. Kemudian merekapun menangis lagi sehingga mengira bahwa mereka mengusai permasalahannya. Akan tetapi, kemudian ia mengusap kedua matanya. Para sahabatnya lantas bertanya. “Wahai Khalifah Rasulullah, apa yang Engkau tangisi?”

“Saya pernah bersama-sama Rasulullah SAW. Lalu saya melihat berliau menolak sesuatu dari dirinya, padahal sata tidak melihat orang lain bersamanya. Saya kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang Engkau tolak dari diri Engkau?’ Beliau mejawab. ‘Dunia ini menjelma kepadaku. Aku berkata kepadanya : Enyahlah dariku! Kemudian ia kembali dan berkata : Engkau dapat menghindar dariku, tatapi orang-orang sesudahmu tidak akan dapat menghindar dariku.’ Kemudia beliau bersabda, ‘Sungguh aneh orang yang mempercayai negeri kekekalan (akhirat), tetapi berusaha untuk negeri penuh tipuan (dunia),” jawab Abu Bakar.

Musa ibn Yasar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah Azza wa Jalla tidak menciptakan makhluk yang sangat Dia benci kecuali dunia. Oleh karena itu, sejak menciptakannya Dia tidak memandang kepadanya.”

Abu Huraryrah berkata : “Rasulullah saw berpesan kepada saya, ‘Wahai Abu Huraryrah, maukah aku perlihatkan kepadamu dunia dengan segala isinya?’
Jawabku : :”Tentu, ya Rasulullah.”
Beliau lantas memegang tangan saya dan mengajak saya ke sebuah telaga di Madinah. Tiba-tiba saya melihat tumpukan sampah penuh dengan kepala manusia, kotoran, potongan kain, dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Abu Huraryrah, inilah kepala-kepala yang dulu rakus seperti kerakusanmu dan berangan-angan seperti angan-anganmu. Kemudian pada hari itu, semua menjadi tulang tanpa kulit; lalu menjadi abu. Kotoran ini adalah berbagai jenis makanan yang mereka usahakan, kemudian mereka memasukkannya ke dalam perut. Lalu jadilah ia sesuatu yang dihindari manusia. Potongan kain usang ini adalah pakaian mewah mereka, lalu ia sesuatu yang diterpa angin. Sedangkan tulang ini adalah tulang belulang binatang tunggangan mereka yang membawa mereka ke penjuru negeri. Oleh karen itu, barangsiapa yang bisa menangisi dunia, menangislah!.’ Kami lantas tidak meninggalkan tempat itu melainkan dengan menangis tersedu-sedu.”

Apabila kita melihat sejarah dunia kita akan mengetahui berapa banyak peradaban-peradaban yang besar hancur karena kesombongannya. Mereka mengira bahwa kesenangan dan kebahagian di dunia adalah bersifat kekal. Manusia berada di bumi untuk diuji. Sepanjang sejarah, risalah yang murni dan wahyu yang disampaikan kepada manusia oleh para utusan-Nya memberi panduan bagi manusia. Para utusan dan kitab-kitab ini senantiasa mengajak manusia ke jalan yang benar, jalan Allah. Saat ini, tersedia kitab Allah terakhir, satu-satunya wahyu-Nya untuk manusia yang tak berubah: Al Quran.

Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar? (QS. Maryam, 19: 98)

Dan (Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Tsamud dan penduduk Ar-Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri ( Sodom ) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan. (QS. Al Furqan, 25: 38-40)

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al An’aam, 6: 6)

Dalam Al Quran, Allah memberi tahu kita bahwa berbagai peristiwa penghancuran ini seharusnya menjadi peringatan bagi generasi berikutnya. Hampir semua kehancuran kaum dahulu yang diceritakan di dalam Al Quran dapat diidentifikasi, berkat kajian arsip dan temuan arkeologis saat ini, dan dengan demikian dapat dipelajari. Namun, merupakan kekeliruan besar jika hanya mengembangkan pendekatan historis dan ilmiah saat mengkaji jejak-jejak peristiwa di dalam Al Quran ini. Sebagaimana dinyatakan di dalam ayat berikut, setiap peristiwa ini merupakan peringatan untuk diambil pelajaran darinya

“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah, 2: 66).

Banyak orang yang mengira bahwa mungkin saja menjalani kehidupan yang sempurna di dunia ini. Menurut pandangan ini, hidup yang bahagia dan menyenang-kan dicapai melalui kelimpahan materi, yang bersama dengan sebuah kehidupan rumah tangga yang memuaskan dan pengakuan atas status sosial seseorang umumnya dianggap sebagai asas bagi kehidupan yang sempurna.

Namun menurut cara pandang Al Quran, suatu “kehidupan yang sempurna” yaitu, kehidupan tanpa masalah adalah mustahil di dunia ini. Ini semata karena kehidupan di dunia memang sengaja dirancang untuk tidak sempurna.

Akar kata bahasa Arab bagi ‘dunia’ dunya mempunyai sebuah arti penting. Secara etimologis, kata ini diturunkan dari akar kata daniy, yang berarti “sederhana”, “remeh”, “rendah”, dan “tak berharga”. Jadi, kata ‘dunia’ dalam bahasa Arab secara inheren mencakup sifat-sifat ini.

Ketidakberartian kehidupan ini ditekankan berkali-kali pada awal situs ini. Memang semua faktor yang dipercaya akan membuat hidup indah — kekayaan, kesuksesan pribadi dan bisnis, pernikahan, anak-anak, dan seterusnya — tak lebih dari tipuan yang sia-sia. Ayat tentang ini sebagai berikut:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warna-nya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadiid, 57: 20)

Dalam ayat lainnya, Allah menyebutkan kecenderungan manusia kepada dunia daripada akhirat:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa, 87: 16-17)

Berbagai masalah muncul hanya karena, dibandingkan hari akhirat, manusia menilai hidup ini terlalu tinggi. Mereka merasa senang dan puas dengan apa yang mereka miliki di sini, di dunia ini. Perilaku seperti ini tidak lain berarti memalingkan diri dari janji Allah dan karenanya dari realitas keberadaan-Nya yang agung. Allah menyatakan bahwa akhir yang memilukan telah menunggu mereka.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.” (QS. Yunus, 10: 7)

Tentu saja, ketidaksempurnaan hidup ini tidak menyangkal kenyataan adanya hal-hal yang baik dan indah di muka bumi. Tetapi di bumi ini, apa yang dinilai indah, menggembirakan, menyenangkan, dan menarik berpasang-pasangan dengan ketidaksempurnaan, cacat dan jelek. Tentu saja, jika diamati dengan pikiran yang tenang dan teliti, fakta-fakta ini akan membuat seseorang menyadari kebenaran hari akhir. Bersama Allah, kehidupan yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi manusia adalah kehidupan akhirat.

Allah memerintahkan para hamba-Nya yang setia untuk berupaya keras memperoleh surga dalam ayat berikut:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 133).

Maka kita sebagai seorang muslim janglah tertipu dengan kehidupan dunia ini. Abu ad- Darda meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis. Selain itu, kalian akan meremehkan dunia dan mengutamakan akhirat.”

Tujuan utama setiap seorang muslim adalah meraih kebahagian kekal di akhirat, dan menjadikan dunia sebagai jalan untuk mendapatkan kesenangan yang abadi. Allah SWT telah menyediakan kebahagian akhirat yang kekal bagi setiap orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al Qashash : 77).

Wallahu a’lam

From → Renungan Hati

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: