Skip to content

Dahsyatnya Doa Perindu Malam

May 24, 2010

Bismillahirrohmanirrohim

Sudah beberapa lama kota Basrah, Irak, tidak turun hujan. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan.

Hal itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan sholat Istiqa’, untuk meminta hujan. Sholat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya, yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka.

Sholat Istiqa’ tersebut dihadiri oleh beberapa ulama besar, seperti Malik bin Dinar, Atha’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Shalih Al-Murri.

Benar-benar sebuah sholat Istiqa’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaik pada zamannya.

Pada penduduk berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama-pun sudah mulai tampak di lapangan itu. Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian al-Qur’an merekapun berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat.

Sholat dimulai. Dua raka’at sudah selesai. Kemudian sang imam menyampaian khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahannya manusia, yang menyebabkan murka Allah. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Doa terus dipanjatkan.

Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Shalat Istiqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing yang bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah.

Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain, mengulang sholat Istiqa’. Berharap, untuk kali kedua, Allah mengabulkan doa mereka. Shalat kedua ditegakkan. Suasana shalat saat itu tidak jauh berbeda dengan shalat sebelumnya. Dan kali itupun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.

Shalat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, suasana dan hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan. Tanda tanya kian menggelayut di dalam hati hati para ulama Basrah.

Seluruh penduduk dan para ulama pulang, yang tersisa tinggal Malin bin Dinar dan Tsabit Al Bunani. Di lapangan mereka terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid, yang tidak jauh dari tempat itu.

Hingga malam datang menjelang, Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Malam pun semakin larut.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai baju dan sarung dari kulit domba, bahan yang biasa dipakai oleh orang miskin.

Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang ini menuju tempat wudhu.

Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit, yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam, kemudian sholat dua raka’at.

Sholatnya tidak terlalu lama. Surah yang dibacanya tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya pun tidak lama.

Selesai sholat, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdoa, “Tuhannku, betapa banyak hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah dengan nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan member kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, anging dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian, tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”

Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga itu selesai dari munajatnya.

Begitu melihat orang itu selesai bermunajat, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam, tidakkah kamu malu terhadap kata-katamun dalam doa tadi?”

Orang tadi bertanya, “Kata-kata yang mana ?”

“Kata-kata ‘dengan kecintaan-Mu kepadaku’,” kata Malik, “Apa yang membuatmu yakin bahwa Allah mencintaimu?”

Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Di manakah posisiku  ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku?”

Setelah mengatakan itu, dia pergi begitu saja dengan secepatnya.

Malik memohon, “Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku perlu sesuatu.”

Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk menaati perintah tuanku.”

Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh.

Ternyata orang itu memasuki rumah seseorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos.

Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panhang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.

Pagi yang dinanti tiba. Malik yang memang mengenal Nakhos, segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam.

“Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam.

Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Semuanya bisa dipilih.”

Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik.

Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat bidak yang dilihatnya itu. Sampai Nakhos menyatakan budaknya sudah dikeluarkan semua.

“Apakah masih ada yang lain?” Tanya Malik.

“Masih tersisa satu lagi.” Jawab Nakhos.

Saat itu waktu mendekati waktu zuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya malam itu sedang tertidur lelap.

“Nakhos, dia yang saya mau. Ya, demi Allah, dialah orangnya.” Kata Malik bersemangat.

Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.”

“Justru untuk itulah aku mau membelinya.” Kata Malik.

Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil sang budak.

Dengan wajah kutu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat, budak itu keluar menemui majikannya.

Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah, terserah berapapun harganya, agar aku cepat terlepas darinya.”

Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu.

“Siapa namanya?” Tanya Malik, yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya.

“Maimun.”

Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya.

Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantumu.”

Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.”

“Bagaimana bisa?” Tanya Maimun.

“Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu?” kata Malik.

“Jadi kalian sudah tahu saya?” Maimun tanya kembali.

“Ya, akulah yang memprotes doamu semalam.” Kata Malik.

Kemudian, budak itu meminta diantar ke masjid.

Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya, wudhu dan masuk. Langsung sholat dua raka’at.

Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamati dan ingin tahu apa yang ia akan lakukan.

Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya, berdoa, seperti yang dilakukannya malam itu. Namun kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka dihadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”

Tangan diturunkan, kemudian ia sujud.

Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik lalu menggerak-gerakkan badan budak itu, dan ternyata ia sudah tidak bernyawa lagi. Innalillahi…

Meski seorang budak berkulit hitam dan miskin, Maimun mempunyai kedudukan yang istimewa di sisi Allah SWT, karena kecintaanya yang besar kepada-Nya. Untuk ‘bertemu’ dengan-Nya, ia gunakan waktu-waktu malam. Waktu yang sangat istimewa, karena Allah SWT ‘turun’ ke langit dunia untuk mendengarkan munajat hamba-hambaNya dan mengabulkannya.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesunggugnya Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia pada setiap malam. Lalu berfirman : ‘Adakah orang yang berdoa? Aku akan mengabulkannya. Adakah orang yang memohon ampun? Aku akan mengampuninya’.” (HR. Thabarani)

Sumber : Karung Mutiara Imam Al-Ghzalali dan berbagai sumber.

From → Mutiara Kisah

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: