Skip to content

FAKTA GELAP KEBIJAKAN ISRAEL : IDEOLOGI ZIONIS (I)

June 4, 2010

Bismillahirrohamnirrohim

Saat ini terdapat beberapa intelektual, pemikir, politikus dan sejarawan menentang kebijakan negara Israel. Beberapa umat Yahudi dan Kristen mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh Israel atas kebijakannya. Benjamin Belt-Hallami, mengkritik kekerasan yang dilakukukan oleh Israel kepada warga Palestina. Dimana dia mengatakan bahwa kedamaian akan tercipta di Yerusalem apabila Israel meninggalkan ideology Zionis. Noam Chomsky, seorang Yahudi, yang telah menulis banyak buku dan artikel, mengkritik sangat kerasa dan dalam atas faham Zionis dan kebijakan negara Israel.

Sekelompok akademisi Yahudi, yang menamakan dirinya ‘sejarawan baru’ telah membongkar ‘kebohongan suci’ yang dibenamkan di dalam kebijakan resmi Israel. Anggota dari mereka adalah Benny Morris, Ilan Pappe, Avi Shlaim, Tom Segev, Baruch Kimmerling, Simha Flappan, dan Joel Miqdal. Tindakan mereka mendapatkan reaksi keras dari kaum Yahudi penganut Zionis. Mereka mengungkapkan kebijakan resmi Israel sebagai berikut :

Orang arab merupkan ras rendah (racially inferior) dibandingkan dengan orang Yahudi, Israel adalah negara kecil yang mencoba bertahan dalam wilayah yang dikelilingi oleh musuh. Semua warga Palestina adalah teroris yang akan menghancurkan Israel, dan teroris gila ini pantas untuk mendapatkan segala bentuk pembalasan. Tom Segev mengatakan bahwa ini adalah sejarah resmi negara Israel. Hingga saat ini, kita tidak memiliki sejarah yang sebenarnya atas negara ini, apa yang kita miliki saat ini adalah sebuah mitos.

Mereka merupakan saksi kengerian ideology Zionis, yang mana merupakan ideology penjajahan dari rasisme abad 19. Mereka tidak mempercayai mitos bahwa Israel adalah “Israel adalah negara kecil yang mencoba bertahan dalam wilayah yang dikelilingi oleh musuh yang ingin menghancurkannya.” Namun, sebaliknya, tindakan-tindakan Israel membuktikan bahwa Israel adalah negara bengis yang menerapkan kebijakan penyerangan dan penindasan.

Gideon Levy, seorang penulis untuk surat kabar Israel’s Ha’artz, setalah membaca mengenai rincian terror Zionis, pernyataan dari saksi mata dan rekaman rahasia, dari sebuah buku yang berjudul Correcting a Mistake: Jews and Arabs in Palestine/Israel, 1936-1956, yang ditulis oleh Profesor Benny Morris, Levy menulis :

Oh, kita dahulu sangat baik (dan melakukan begitu banyak kejahatan). Kita dahulu sangat adil (dan menyebabkan begitu banyak ketidakadilan). Kita dahulu sangat indah (dan aksi-aksi kita menyebabkan banyak keburukan). Dan oh, kita dahulu sangat tidak berdosa dan menyebarkan banyak kebohongan dan kebenaran-kebenaran yang tidak utuh kepada diri kita dan seluruh dunia. Kita, yang lahir kemudian, tidak mendapatkan kebenaran yang utuh, mereka hanya diajarkan kepada kita beberapa bagian-bagian yang baik. Namun, kemudian, banyak bagian-bagian yang gelap yang tidak pernah kita dengar.

Israel Shakak, Profesor Kimia Yahudi, yang menghabiskan waktunya selama 40 tahun di Israel dan meninggal pada tahun 2001, mengkritik kebijakan anti hak asasi manusia Zionis. Dalam bukunya, Jewish History, Jewish Religion, and the Weight of Three Thousand Years, Shakak menjelaskan bahwa ideology Zionis membahayakan kemanusiaan:

Dalam banyak pandangan, Israel sebagai negara Yahudi merupakan sebuah bahaya bukan hanya kepada dirinya dan penduduknya, namun kepada semua warga Yahudi dan seluruh warga diluar maupun didalam kawasan Timur Tengah.

Ilan Pappe, yang mengataka dirinya “saya adalah warga Israel yang paling membenci Israel” adalah seorang akademisi Yahudi yang menyebarkan pandangan sejarawan baru. Ketika Pappe diwawancara mengapa warga Israel gagal untuk menyadari kekejaman yang dilakukan kepada warga Palestina. Jawabannya sungguh mengejutkan. Pappe mengatakan :

“Ini merupakan suatu proses yang panjang dari indoktrinasi yang diakukan sejak masa taman kanak-kanak, yang selalu menyertai sepanjang kehidupan anak-anak Yahudi. Kamu tidak akan mampu menghilangkan secara mudah sebuah tindakan yang telah tertanam pada mereka melalui mesin indoktrinasi yang sangat kuat, mereka diberikan persepsi yang rasis kepada bangsa lain, mereka menganggap bahwa bangsa lain adalah primitif, lemah dan bermusuhan – dia bermusuhan, namun penjelasan yang diberikan bahwa dia lahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan seseorang yang merampas tanah airnya.

Namun para pemikir, dan penulis lebih memiliki kesamaan pandangan dengang ideology Zionis dibandingkan dengan mereka yang memiliki perbedaan dengan ideology Zionis. Mereka yang memakai fakta-fakta sejarah dan dokumen tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina dan menulis buku serta artikel yang mengkritik ideology Zionis akan dituduh sebagai anti-Semit. Sebagai contoh, crew yang sedang membuat film dokumenter pada televisi Inggris BBC, tentang pembunuhan masal yang terjadi pada tahun 1982 di kamp pengungsi di Sabra dan Shatila, dan juga sutradara stasiun televisi yang menyiarkan, dituduh anti-Semit oleh pemerintah Israel.

Itu merupakan teknik yang dilakukan oleh para pendukung ideology Zionis untuk memfitnah dan membungkam mereka yang mengkritik ideology Zionis. Pendukung ideology Zionis menuduh kepada seorang Yahudi yang mengkritik ideology Zionis dan kebijakan Israel sebagai ‘Yahudi yang membenci dirinya.’

Faktanya, penilaian berdasarkan ras bangsa adalah penilaian yang tidak berdasar dan irasional. Pertikaian antara Yahudi dan Muslim di kawasan ditimur tengah, adalah hasil dari kesetiaan sebagian orang Yahudi kepada ideology Zionis yang rasis dan ideology anti agama.

Al-Qur’an tidak membeda-bedakan ras dan etnis. Perbedaan suku bangsa adalah dorongan untuk hidup secara damai dan harmoni dalam suatu komunitas.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat : 13).

Faham Zionis pertama kali diperkenalkan di dunia oleh seorang wartawan berkebangsaan Austria, Theodor Herzl (1860-1904). Herzl dan kawan-kawannya memiliki keimanan yang sangat lemah, atau malahan tidak memiliki iman sama sekali. Mereka memandang bahwa Yahudi sebagai ras, bukan sebagai agama. Mereka berpendapat bahwa Yahudi merupakan ras yang terpisah dari negara-negara Eropa, sehingga mustahil bagi Yahudi hidup bersama dengan negara-negara Eropa. Oleh karena itu, Yahudi harus mendirikan sebuah tanah air tersendiri. Theodor Herzl, pendiri faham Zionis, mengeluarkan apa yang dikenal dengan “Rencana Uganda” (“Uganda Plan”). Dan kemudian pendukung Zionis, memilih Palestina. Alasan mereka memilih Palestina adalah terkait dengan anggapan bahwa Palestina adalah tanah air bersejarah Yahudi.

Kaum Zionis pada saat itu melakukan upaya-upaya yang besar untuk mengumpulkan orang-orang Yahudi lain untuk menerima ide-ide sekuler mereka. Organisasi Zionins Dunia baru melakukan propaganda besar-besaran di hampir semua negara dengan populasi Yahudi. Organisasi tersebut menyampaikan dalam propagandanya bahwa Yahudi tidak dapat hidup damai dengan bangsa-bangsa lain, karena Yahudi adalah ‘ras’ yang terpisah. Oleh sebab itu, mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Namun komunitas Yahudi saat itu mengabaikan panggilan tersebut.

Menurut pernyataan dari Amnon Rubinstein : “Ideologi Zionis merupakan sebuah pemberontakan terhadap tanah air mereka (Yahudi) dan sinagog.” Oleh karena itu, banyak kaum Yahudi yang mengkritik kebijakan Ideology Zionis. Rabi Hirsch, sala satu pemuka agama Yahudi terkenal pada masanya mengatakan bahwa, “Ideologi Zionis menginginkan untuk membentuk masyarakat Yahudi sebagai entitas nasional … hal itu merupakan hal yang belebih- lebihan.”

Pemikir muslim Perancis terkenal, Roger Garaudy menulis :

Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah nasionalis, rasis dan pemahaman kolonialis dari Zionisme, yang lahir dari nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19.. Pemahaman ini, yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya suatu bangsa kepada bangsa lain, merupkan pemahaman bunuh diri (suicidal logic). Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika Israel telah mengalami “pembebasan dari pemikiran zionis” dan kembali ke agama Ibrahim, yang merupakan agama samawi, persaudaraan dan wa risan dari tiga agama: Yudaisme, Kristen dan Islam.

Dengan cara ini, Zionisme memasuki politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis mempertahankan bahwa masyarakat Yahudi tidak seharusnya hidup bersama dengan bangsa lain. Zionisme sebenarnya adalah sebuah bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, bukan dari agama. Namun, seperti dalam kasus lain dari nasionalisme, Zionisme juga berusaha menggunakan agama untuk kepentingan sendiri.

“Taurat adalah kitab suci Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa. Allah berfirman dalam Al Qur’an: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) …” (QS Al-Maidah (5) : 44). Al-Qur’an juga mengatakan bahwa Taurat kemudian terdistorsi dengan memasukkan kata-kata manusia. Itulah sebabnya apa yang kita miliki saat ini adalah “Taurat yang menyimpang.”

Namun, penelitian menunjukkan adanya banyak nilai-nilai moralitas agama yang terkandung dalam kitab suci agama samawi, seperti iman kepada Allah, tunduk kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut akan Allah, kasih Allah, keadilan, kasih sayang, rahmat , menentang kekejaman dan ketidakadilan, yang semuanya berlaku di seluruh Taurat dan kitab-kitab suci lain dari Perjanjian Lama.

Para pendukung Zionis melakukan pemahaman dan penafsiran sepihak terhadap ayat-ayat Taurat yang terkait dengan ‘umat pilihan’ yang diberikan oleh Tuhan kepada Yahudi. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut :

“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS Al-Baqarah (2), 47)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israel Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya).” (QS Al-Jaatsiyah (45), 16).

Pemahaman ‘umat pilihan’ dalam al-Qur’an tidak seperti pemahaman yang dimiliki oleh kaum Yahudi radikal. Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa banyak nabi yang berasal dari keturunan Yahudi, dan pada saat itu kaum Yahudi banyak menjadi pemimpin. Ayat tersebut menjelaskan bahwa, kebaikan dari kedudukan yang dimiliki oleh kaum Yahudi, “Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya).” Namun ketika mereka menolak Nabi Isa AS, kedudukan kaum Yahudi sebagaimana disampaikan di dalam al-Qur’an menjadi berakhir.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa umat pilihan adalah bagi nabi-nabi dan orang beriman yang diberi petunjuk oleh Allah menuju kebenaran.

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Al-Baqarah (2), 130).

“(dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.” (QS Al An’aam : 87-89).

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam (19), 58)

Namun kaum Yahudi radikal, melihat bahwa “bangsa yang terpilih” adalah sebagai karakter rasial dan oleh sebab itu mereka berpandangan bahwa setiap orang Yahudi mendapatkan keunggulan melalui kelahiran dan setiap anak-anak Yahudi dianggap sebagai seseorang yang unggul di banding bangsa-bangsa lain.

Selanjutnya, anggapan sebagai bangsa pilihan menjadikan legitimasi atas “sebuah perintah untuk melakukan kekejaman kepada bangsa-bangsa lain.” Kaum Yahudi melegitimasi tindakan brutal mereka melalui kebencian yang dalam yang dapat ditemukan di dalam beberapa aspek dari Yudaisme Talmud. Menurut pandangan tersebut, hal yang wajar apabila kaum Yahudi mencurangi non-Yahudi, merampas tanah dan bangunan mereka, apabila perlu membunuh mereka, wanita dan anak-anak. Bagi mereka seorang Yahudi yang percaya kepada Tuhan pasti menyadari bahwa agama mereka menganjurkan untuk menghargai kedamaian, cinta, pengampunan dan tingkah laku. Seperti :

Engkau harus tidak melakukan ketidakadilan dalam membuat keputusan: Engkau tidak akan menjauhi orang miskin, juga tidak menghormati orang-orang besar. Dalam kebenaran engkau akan menghakimi sesamamu. Engaku tidak akan pergi sekitar sebagai pengadu antara orang-orang, atau Engkau akan mengambil sikap terhadap kehidupan tetanggamu: Akulah Tuhan.Engkau tidak akan membenci saudaramu di dalam hatimu. Engkau pasti akan menegur tetangga Anda, dan tidak menanggung dosa karena dia. (Perjanjian Lama, Leviticus, 19:15-17)

Dia telah menujukkan kepadamu, hai manusia, apa yang baik; dan apa yang oleh Tuhan perintahkan kepadamu. Bertindak baik, mencintai kedamaian, dan berjalan dengan rendah hati bersama Tuhanmu. (Perjanjian Lama, Micah, 6:8).

Menurut Al-Qur’an juga, perang pada dasarnya adalah sebuah sarana pertahanan. Bahkan jika perang telah dinyatakan dalam suatu masyarakat, kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Perintah untuk membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua tidak dapat disahkan oleh agama manapun.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat (49), 13)

Selain topeng agama palsu, alasan yang nyata bagi yang barbarisme dan kekejaman Zionisme adalah hubungannya dengan mentalitas Eropa kolonial abad kesembilan belas. Kolonialisme bukan hanya sistem politik atau ekonomi, melainkan sebuah ideologi secara bersamaan. Zionisme, yang percaya bahwa negara-negara industri Barat mempunyai hak untuk menjajah dan menduduki negara-negara terbelakang di wilayah ini, melihat ini sebagai hasil alami dari alam “seleksi internasional” proses. Dengan kata lain, Zionisme adalah sebuah produk Darwinisme Sosial. Dalam kerangka ideologi ini, Inggris menjajah India, Afrika Selatan, dan Mesir, dan Perancis menjajah Indocina, Afrika Utara, dan Guyana. Terinspirasi oleh contoh-contoh ini, Zionis memutuskan untuk menjajah Palestina bagi orang Yahudi.

Kolonialisme Zionis ternyata jauh lebih buruk daripada Inggris atau Perancis, untuk setidaknya Inggris atau Perancis meperbolehkan bangsa yang dijajah mereka untuk hidup (setelah mereka diserahkan) dan bahkan mereka ikut pendidikan mereka, administrasi adil, dan infrastruktur. Namun, para Zionis tidak mengakui hak rakyat Palestina untuk hidup; mereka berlatih malakukan pembersihan etnis, dan tidak memberi kontribusi apapun bagi orang-orang di bawah dominasinya. Anda bahkan mungkin mengatakan bahwa mereka tidak meletakkan satu batu batapun bahkan untuk Palestina.

From → Renungan Hati

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: