Skip to content

Menghitung Waktuku

June 17, 2010

Bismillahirrohmanirrohim.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiya’: 35).

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa, 78).

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumuah, 8).

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, adakah seseorang bisa berkumpul bersama para syuhada?” Beliau menjawab, “Ya. Orang yang mengingat mati dua puluh kali dalam sehari semalam.”

Mengingat kematian adalah suatu benteng pertahanan yang kuat bagi setiap orang beriman agar tidak terlena dengan tipu daya dan kemewahan dunia. Tujuan hidup manusia di dunia pada hakikatnya adalah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat, yaitu mendapatkan sebanyak-banyaknya keridhaan Allah SWT.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS al Kahfi, 7).

Seorang yang disebut-sebut dan dipuji di hadap Rasulullah. Rasulullah SAW lalu bertanya, “Bagaimana sahabat kalian itu mengingat mati?” Mereka menjawab, “Kami hampir tidak pernah mendengarnya mengingat-ingat mati.” Beliaupun bersabda, “Sahabat kalian tidak layak untuk dipuji.”

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW pergi ke masjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum sedang mengobrol dan tertawa terbahak-bahak. Rasul menghampiri mereka dan beliau bersabda, “Ingatlah mati, karena demi Zat Yang diriku dalam kekuasaanya-Nya, andai kalian tahu apa yang saya ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia menghilangkan dosa dan membuat zuhud di dunia.”

Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. “ (HR. Ad-Dailami).

Ibn as-Sammak berkata, “Saya pernah melewati kuburan. Tiba-tiba di atas kuburan itu saya melihat tulisan:

Seorang kekasih itu perampas, penjaga pintu dan pengawal tak dapat mencegah kematiannya, bagaimana kau bersenang-senang dengan dunia kelezatannya, wahai yang diperdaya kata-kata dan syahwat, jadilah engkau, wahai orang lalai, tenggelam dalam kekurangan, waktumu kau habiskan dalam kesenangan, kematian tak kenal belas kasih pada orang yang tak tahu sebab kelalaiannya, tak pula pada orang yang mengetahuinya, betapa sering kubiarkan kematian dalam kubur tempat singgahku dari jawaban lisan yang membisu, istanamu yang kau bangun itu punya kemuliaan, tapi kuburanmu kini hilang dalam tanah.”

Namun Allah SWT memberikan kabar gembira kepada hamba-Nya yang shaleh yang menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi di surga.

Dan Allah SWT juga berfirman :

“Barangsiap yang mengerjakan amal-amal saleh baik ia laki-laki maupun perempuan sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiyaya walau sedikitpun.” (QS an-Nisaa’, 124).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : ” … coba perhatikan dirimu baik-baik, tidak lama lagi kamu akan mencapai tujuan akhir semua manusia, yaitu terbujur kaku di bawah lapisan tanah. Segala perbuatanmu akan diperlihatkan kepada dirimu di padang masyahr, yaitu tempat dimana orang-orang yang telah berbuat aniaya akan merintih menyesali diri; orang yang lalai akan sangat menyesali diri dan berharap seandainya ia dapat kembali ke dunia. Namun itu semua tiada berguna, karena kesempatan mengulang sungguh tidak akan pernah ada…”

Abu Hamzah Al-Khurasani (seorang sufi, wafat tahun 903) mengatakan, “Barangsiapa ia telah merasakan ingat kematian, maka Allah akan menjadikan ia senang mencari pahala dan benci terhadap dosa.”

Mari kita renungkan perjalanan kehidupan dunia menuju kehidupan setelah kematian yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.

Sesaat setelah rohku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku :
1. “Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?”
2. “Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu?”
3. “Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?”

Ketika jasadku digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat kepadaku :
1. “Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, mengapa engkau tidak berdaya?”
2. “Wahai anak Adam, dimanakah lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini kau terdiam?”
3. “Wahai anak Adam, dimakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu tergeletak sendirian tanpa daya?

Sewaktu mayatku dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku menuruti apa yang dikatakan malaikat:
1. “Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa membawa bekal!”
2. “Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan janganlah kembali!”
3. “Wahai anak Adam, naiklah tanda yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi setelah itu!”

Tatkala jenzahku dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja yang ditandu prajurit, ketika malaikat berseru kepadaku :
1. “Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertobat.”
2. “Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya.”
3. “Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila yang menjadi teman abadimu di dalam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau apabila teman abadimu murka Allah.”

Ketika aku dibaringkan untuk disholati, akankah diriku mampu bersikap ‘manis’ tatkala malaikat berbisik di telingaku:
1. “Wahai anak Adam, semua perbuatan yang telah engkau lakukan akan engkau lihat kembali.”
2. “Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam amal saleh maka bergembiralah.”
3. “Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada-Nya!”

Sewaktu jasadku berada ditepi kubur siap untuk diturunkan ke liang lahat, akankah lidahku kelu menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih :
1. “Wahai anak Adam, kedamaian apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini?”
2. “Wahai anak Adam, cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini?”
3. “Wahai anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang ini?”

Tatkala aku sudah diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat datang yang disampaikan bumi kepadaku :
1. “Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri?”
2. “Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam dalam duka nestapa?”
3. “Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bersilat lidah, masikah kini engkau ‘bernyanyi’ ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?”

Setelah aku sendiri terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing, akankah kecemasan menguasai diriku ketika Allah SWT berfirman, “Wahai hamba-Ku, sekarang engkau terasingkan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat kepada-Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharap surga-Ku?”

Allah SWT berfirman :

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl, 96-97).

Janganlah kita lalai bahwa setiap saat salah satu dari kita akan meninggal dunia, tidak ada kesempatan lagi bagi kita memperbaiki kesalahan yang telah kita perbuat di kehidupan dunia. Atas alasan ini, kita harus segera bertaubat, memohon ampun kepada Allah SWT, dan berusaha mendapat keridhaan Allah SWT setiap saat melalui petunjuk yang telah Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga melalui sunnah Rasulullah SAW. Ini adalah satu-satunya cara untuk menjadi hamba Allah SWT yang dilimpahi oleh kasih sayang dan ampunan-Nya. Hal ini juga merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan surga, sebuah kedimaan yang sangat indah bagi hamba-hambanya yang bertakwa.

Allah SWT memberikan banyak petunjuk kepada kita untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, yaitu surga sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan. Sesungguhnya janji Allah SWT adalah janji yang benar dan Allah SWT Maha Menepati janji.

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS al-Mu’min, 55).

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS al-Nashr, 3).

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Nisa’, 110).

“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” (QS Ali ‘Imran, 15-17).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka, sebagai karunia dari Tuhanmu. Demikianlah itulah kemenangan yang agung.” (QS Al-Dukhan, 51-57).

Wallahu a’lam

From → Renungan Hati

2 Comments
  1. Ya Allah hidupkanlah kami dalam iman
    Matikanlah kami dalam iman..Bantulah kami dalam beribadah yang terbaik buatMu. Lindungilah kami dari azab neraka.
    Allahumma Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: