Skip to content

Islam, Agama Yang Menebarkan Salam (Damai)

July 12, 2010

Islam adalah agama cinta damai bukan hanya sebuah slogan. Sebagian orang mengidentikkan Islam dengan agama yang penuh kekerasan, perang dan pedang. Lebih-lebih, diantara umat Islam sendiri (baca : kelompok umat Islam), memiliki pemikiran yang demikian ekstrim. Namun sebenarnya mereka tidak memiliki pemahaman yang utuh terhadap pemahaman awal/dasar yang harus dipahami di dalam Islam. Hal yang sangat memprihatinkan. Karena pemahaman mereka yang setengah-setengah ikut menyesatkan pengikutnya pada pemikiran yang sempit dan dangkal ini.

Islam (berbeda dengan sebagian pandangan sekelompok orang ) selalu condong kepada perdamaian, membangkitkan semangat perdamaian, dan mengajak segenap umat manusia kepada perdamaian. Islam menempatkan perdamaian sebagai tujuan utama dakwahnya.

Islam juga membenci peperangan dan mendorong setiap umatnya agar selalu mencegah peperangan sebisa mungkin. Apabila peperangan terpaksa terjadi , Islam selalu berusaha untuk membatasi cakupannya, memperkecil kerugiannya, dan meminimalisasi akibat-akibat buruk dari peperangan.

Dari segi bahasa, Islam dan salam (damai) atau silm berasal dari kata, sin, lam, dan mim. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah, 208).

Kata silm memiliki beberapa penafsiran, pertama, silm ditafsirkan salam (damai), kedua, silm ditafsirkan sebagai Islam, yaitu masuklah kalian ke dalam cabang-cabang Islam seluruhnya : akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan undang-undang. Akhirnya memasuki kedamaian yang hakiki, kedamaian dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan seluruh manusia.

Asal dari makna al-silm adalah penyerahan diri dan meinggalkan perselisihan. Al silm, memiliki dua makna, makna yang pertama, rekonsiliasi, perdamaian dan meninggalkan peperangan, kedua, kepatuhan terhadap Allah, agama-Nya dan syariat-syariat.

Salam termasuk salah satu Asmaul Husna yang dimiliki oleh Allah SWT. Dalam berdo’a, seorang muslim kadang menggunakannya, dan dalam bertaqarrub kepada Allah, senantiasa menyebutnya. Allah SWT berfirman : “Hanya miliki Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna.” (QS al-A’raf, 180).

Dalam al-Qur’an, kita membaca, “Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera.” (QS al-Hasyr, 23).

Umat Muslim adalah umat yang satu yang terdapat di kalangan mereka seseorang dengan nama Abdul Salam (hamba dari Zat Yang Mahasejahtera), yaitu hamba Allah.

Surga yang dirindukan oleh setiap mukmin, dan ia beramal sebanyak mungkin agar bisa menjadi penghuni surga, dinamakan juga Darus Salam. Firman-Nya, “Bagi mereka (disediakan) Darus Salam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS, al-An’am : 127).

Kata yang paling banyak terdengar di surga nanti adalah kata salam, yaitu bentuk penghormatan kaum mukmin di akhirat kelak. Firman-Nya, “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka” (QS al-Ahzab, 44).

Allah SWT berfirman : “Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin.” (QS Yunus : 10).

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS al-Waqi’ah : 25-26).

Sebagaimana kata salam merupakan bentuk penghormatan orang-orang mukmin di akhirat nanti, kata ini juga merupakan bentuk penghormatan mereka di dunia. “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” (semoga keselamatan, rahmata Allah dan berkah-Nya tercurahkan kepada kalian). Menebarkan salam termasuk amal yang utama di dalam Islam.

Dirirwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan dengan suatu amalan yang jika kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai : tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim, Ahmad, Al Tirmidzi dan Ibn Majah).

Sesuai hadist di atas salah satu ciri orang beriman adalah menebarkan salam.

Saat duduk tasyahud dalam sholat, seorang Muslim menyampaikan salam kepada Nabinya, Muhammad, dan kepada dirinya, dan umat Muhammad : “assalamu ‘alaika ayyuha al-nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillah al shalihin.” (semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan tercurah kepada kita semua dan kepada hamba-hamba yang saleh).

Lalu, seseorang Muslim mengakhiri shalat dengan mengucapkan penghormatan salam ke sebelah kanan dan kiri, sebagai pemberitahuan bahwa dia dalam keadaan salam (selamat/sejahtera/damai) sewaktu mengerjakan sholat. Apabila selesai mengerjakan sholat, di menemui orang-orang dan menjalani kehidupan dengan penuh salam. Dengan demikian, dirinya menjadi salam dalam ibadahnya dan salam dalam muamalahnya.

Apabila kita melihat realitas sejarah dalam peristiwa Hudaibiyah, para sahabat berjanji setia untuk siap mati membela Rasulullah SAW, yaitu, berperang sampai mati dan tidak akan menyerah dengan kondisi apapun. Lalu Allah SWT, menghendaki agar kaum Muslim mengadakan musyawarah dengan orang-orang musyrik, dan mengakhirnya peperangan dengan menyepakati perjanjian damai yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah.

Isi perjanjian itu pada pokoknya mengatur mengenai gencatan senjata dan aksi damai selama sepuluh tahun. Pada masa ini, pedang harus disimpan, dan masing –masing pihak harus menahan dirinya untuk tidak menyerang pihak lain.

Allah SWT menyebut peristiwa tersebut sebagai KEMENANGAN YANG NYATA atau fathan mubinan. Dalam surah al Fath, diawali dengan ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS al-Fath, 1)

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah. Apakah yang dimaksud dengan ayat ini adalah kemenangan?” Beliau menjawab, “Ya, itulah kemenangan yang nyata.” (HR Ahmad).

Para sahabat merasa heran dengan istilah kemenangan yang tanpa diraih dengan peperangan, bahkan disebut dengan kemenangan yang nyata. Kemuadian Allah SWT menurunkan suatu surah yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, yaitu surah Al-Fath.

Allah SWT berfirman : “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Fath, 24).

Maka, Islam merupakan agama cinta damai, bukanlah hanya slogan semata!. Kedamaian (salam) menempati posisi strategis di dalam agama Islam. Apakah engkau mengetahui bahwa nama Jabbar (Mahaperkasa) dan Mutakabbir (Mahabesar) hanya disebut sekali dalam surah al-Hasyr. Sedangkan nama Ar-Rahman (Mahapengasih) dan Ar-Rahim (Mahapenyayang) sebagai pembuka surah al-Qur’an yang berjumlah 113 surah (kecuali at-Taubah).

Allah SWT berfirman :

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS al-A’raf, 151).

Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. (QS al-Mu’minun, 109).

Dan Allah SWT juga berfirman :

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya’, 107).

Konsep kedamaian sangat berserakan di dalam ajaran Islam. Katanlah dengan hati yang ikhlas “ Islam, Agama Yang Menyebarkan Salam.”

Wallahu a’lam. Allhumma sholi ala sayyidina Muhammad, wa ala alihi, wa shobihi wa salam.

sumber : http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/taufani-evandri/islam-agama-yang-menebarkan-salam-damai/428704763712

From → Renungan Hati

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: