Skip to content

Akhlak Mulia Rasulullah SAW : Dakwah Rasulullah SAW ke Tha’if

August 21, 2010

Setelah sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri di sekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidu mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya. Selebihnya selalu berusaha menggangu dan menghalangi beliau dan para pengikutnya dengan segala upaya yang ada. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk Islam sampai akhir hayatnya.

Pada tahun kesepuluh setelah masa kenabian, Abu Thalin wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa menganggu dan menentang Nabi SAW.

Tha’if merupakan kota terbesar kedua di kawasan Hijaz. Terletak 80 km dari kota Mekkah. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah SAW pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapat tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setiba di sana, Rasulullah SAW mengujungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Rasulullah SAW – pun mereka tidak mau. Rasulullah SAW diperlakukan secara kasar. Sikap kasar mereka sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang apabila Rasulullah dan pengikutnya tinggal di Tha’if. Semulah Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiring tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.

Salah seorang di antara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi utusan-Nya?” Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi utusan-Nya?”
Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak akan berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara kepadamu.”

Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian kasar itu, Rasulullah SAW yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkan mudah putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah SAW mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah dari Tha’if dengan berkata, “Keluarlah kami dari kampung ini! Dan pergilah kemana yang kamu suka!”

Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan tenang, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW menjumpai tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudia beliau berdoa :

“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan masalahku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

Demikian sedihnya dia yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi SAW, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril AS untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril AS member salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang terjadi kepadamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian Jibril AS memperlihatkan pada malaikat itu kepada Rasulullah SAW.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah SAW, dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Semoga kita sebagai umat beliau, selalu diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berusaha mencontoh beliau dalam tingkah laku dan sifat-sifat beliau dengan segala daya upaya yang kita miliki. Amin.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa alla alihi wa shahbihi wa salam

From → Mutiara Rasul

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: